Apa Itu Shrinkflation & Bagaimana Cara Mengakalinya Supaya Belanjaan Bulanan Nggak Terasa Makin Mahal?

21 July 2026

•

5 min

apa itu shrinkflation

Ringkasan:

  • Taktik Terselubung Produsen: Shrinkflation merupakan fenomena penyusutan ukuran fisik, volume, atau berat bersih (netto) produk makanan dan sembako oleh pihak produsen demi menyiasati kenaikan harga bahan baku tanpa mengubah harga jualnya.
  • Dampak Boros bagi Konsumen: Praktik ini merugikan pembeli secara halus karena produk harian menjadi lebih cepat habis dari biasanya, yang secara tidak langsung memaksa konsumen melakukan pembelian ulang secara lebih intens dan membuat pos pengeluaran bulanan jebol.
  • Strategi Belanja Cermat: Menghadapi trik kemasan ini memerlukan kecermatan dalam membandingkan harga per satuan berat/volume, beralih ke merek generik supermarket, belanja sistem grosir, serta rutin mengevaluasi pengeluaran melalui Aplikasi GoPay.

Disclaimer: Ringkasan ini dibuat menggunakan Kecerdasan Buatan (AI)


Dulu, bawa uang Rp100 ribu ke supermarket udah cukup banget buat menuhin keranjang belanja bulanan. Tapi, sekarang kamu cuma bisa dapetin sedikit barang dengan jumlah uang yang sama. Terus, isi kemasan produk yang dibeli sekarang malah makin berkurang.

Fenomena inflasi harga sembako begini tentu bikin banyak orang pusing, sehingga sering dibahas di mana-mana. Pada akhirnya, istilah shrinkflation pun makin populer. Memangnya, apa itu shrinkflation? Yuk, cari tau maksudnya dan cara menghadapinya di sini!

BACA JUGA: Cara Mengatur Keuangan Bulanan

Apa Itu Shrinkflation?

Apa Itu Shrinkflation

Apa Itu Shrinkflation | Sumber: Magnific.com/freepik

Shrinkflation adalah gabungan dari kata shrink (menyusut) dan inflation (inflasi). Istilah ini merujuk pada taktik produsen buat mengurangi ukuran fisik, volume, atau berat bersih produk, tapi harga jualnya nggak berubah.

Dengan kata lain, kamu tetap membayar nominal yang sama untuk jumlah barang yang lebih sedikit. 

Cara kerja trik ini bisa dibilang halus banget. Biasanya, bentuk kemasannya dibuat mirip banget sama sebelumnya atau cuma diberi sedikit lekukan baru biar terkesan menampung lebih banyak barang.

Padahal, produsen sengaja melakukan shrinkflation buat menyiasati kenaikan biaya bahan baku produksi tanpa perlu naikin harga jual, jadi biar konsumen nggak lari ke merek pesaing.

Efek Shrinkflation bagi Konsumen

Efek Shrinkflation bagi Konsumen

Efek Shrinkflation bagi Konsumen | Sumber: Unsplash.com/emkal

Ngomongin apa itu shrinkflation, jelas produsen lebih untung karena mereka bisa menekan pengeluaran buat produksi barang. Tapi, gimana dampaknya buat kita selaku pembeli?

Karena berat bersih produk berkurang, otomatis barang kebutuhan dapur kita bakal lebih cepat habis dari perkiraan semula. Alhasil, kamu terpaksa harus lebih sering beli lagi, dan ini tentu bikin belanja jadi lebih boros daripada biasanya.

Kondisi ini pun makin berat kalau dibarengi inflasi harga sembako yang terus merangkak naik tiap tahun lantaran pengeluaran kita bakal meningkat drastis, sedangkan pemasukan segitu-segitu aja.

Tips Belanja Bulanan Hemat di Tengah Shrinkflation

Tips Belanja Bulanan Hemat di Tengah Shrinkflation

Tips Belanja Bulanan Hemat di Tengah Shrinkflation | Sumber: Unsplash.com/socialtyvr

Tenang aja, kamu nggak perlu pasrah sama shrinkflation yang bikin pusing begini. Soalnya, ada beberapa tips belanja bulanan hemat yang bisa langsung kamu coba sekarang juga saat beli sembako. Ini dia caranya!

1. Buat daftar prioritas belanja sebelum berangkat

Supaya kamu nggak tergoda buat beli barang yang nggak perlu di pasar atau supermarket, sebaiknya bikin dulu daftar belanjaan tertulis dari rumah. Catat dengan teliti barang-barang kebutuhan pokok yang memang udah habis.

2. Bandingkan harga dan berat bersih

Kalau mengacu lagi ke apa itu shrinkflation dan taktik yang dipakai produsen, kamu pasti bakal nemuin barang yang sekilas kelihatan lebih murah karena kemasannya gede, tapi isinya sedikit. Karena itu, selalu cek besaran netto atau berat bersih pada kemasan!

Dengan mengetahui berat bersih, kamu bisa lebih gampang menghitung harga per gram atau liternya biar tau mana yang beneran murah. 

Supaya lebih jelas, anggap aja kamu lagi mau beli sabun cair dan ada 2 merek: merek A seharga Rp20.000 dengan isi netto 400 ml dan merek B seharga Rp18.000 dengan isi netto 300 ml.

Buat hitung harga vs netto, coba bagi harga barang dengan berat bersih yang tertera di kemasan. Berarti, harga per ml sabun A adalah Rp50 per ml, sedangkan harga sabun B adalah Rp60 per ml.

Jadi, meski harga kemasan sabun B sekilas lebih murah, sabun A sebenarnya jauh lebih hemat dari segi harga per ml.

3. Pertimbangkan merek generik

Sesekali, nggak ada salahnya beralih ke produk merek generik atau private label milik supermarket tempatmu belanja. 

Biasanya, produk jenis ini dipajang dengan harga jauh lebih murah, tapi kualitasnya tetap bersaing. Selisih harganya lumayan banget buat menambah tabunganmu, lho!

Terus, apa aja barang yang aman banget diganti ke merek generik? Beberapa contohnya adalah bumbu masak (garam, gula, dll.), cairan pembersih lantai, tisu, dan kapas wajah.

4. Beli sembako secara grosir

Membeli bahan pokok seperti beras, minyak goreng, dan tepung terigu dalam ukuran besar atau pakai sistem grosir bisa menekan pengeluaranmu dalam jangka panjang. Sebab, harganya jauh lebih murah daripada beli secara eceran dalam kemasan kecil.

Karena itu, kamu bisa coba belanja sembako di toko grosir terdekat dari tempat tinggalmu.

5. Manfaatkan promo yang ada

Terakhir, rajin-rajinlah memantau promo mingguan, diskon akhir bulan, atau kupon cashback yang ada di supermarket. Kamu bisa memanfaatkan aplikasi pembayaran digital, termasuk GoPay, buat dapetin keuntungan ini.

Belanja saat momen promo besar-besaran bisa memotong budget belanja bulananmu biar lebih hemat. Tapi, ingat! Sebaiknya tetap beli barang yang memang kamu butuhin aja dan jangan lapar mata.

BACA JUGA: Tips Belanja Harian

Jadi, apa itu shrinkflation? Ini adalah fenomena yang bisa bikin belanja bulanan lebih boros karena berat bersih produk berkurang, tapi harganya tetap sama. Alhasil, kamu jadi harus lebih sering belanja buat isi ulang.

Gara-gara itu, mungkin kamu ngerasa budget bulanan jebol terus, padahal masih beli barang yang sama tiap bulan. Biar nggak kecolongan, langsung aja cek detail Laporan Keuangan di aplikasi GoPay karena riwayat transaksi nggak pernah bohong soal efek inflasi!

FAQ Apa Itu Shrinkflation

Q: Mengapa produsen lebih memilih taktik shrinkflation daripada menaikkan harga jual produk secara terang-terangan?
A: Produsen menyadari bahwa konsumen jauh lebih sensitif terhadap kenaikan harga nominal di rak toko daripada perubahan kecil pada ukuran kemasan. Dengan menerapkan shrinkflation, produsen bisa tetap menjaga margin keuntungan mereka di tengah inflasi tanpa risiko kehilangan pelanggan yang sensitif harga yang berpotensi lari ke merek kompetitor.

Q: Bagaimana cara menghitung harga per unit untuk mengetahui produk mana yang beneran hemat di tengah fenomena shrinkflation?
A: Gunakan rumus matematika sederhana dengan membagi harga jual nominal dengan berat bersih (netto) produk:

Harga per Unit = Harga Jual/Berat Bersih

Sebagai contoh, sabun A seharga Rp20.000 dengan isi 400 ml memiliki nilai Rp50 per ml (20.000 : 400), sedangkan sabun B seharga Rp18.000 dengan isi 300 ml memiliki nilai Rp60 per ml (18.000 : 300). Dari perhitungan ini, sabun A terbukti jauh lebih hemat meskipun harga kemasannya sekilas tampak lebih mahal.

Q: Jenis produk rumah tangga apa saja yang paling disarankan untuk diganti ke merek generik demi menekan pengeluaran?
A: Anda bisa menghemat anggaran dengan beralih ke merek generik atau private label milik supermarket untuk produk-produk komoditas esensial yang tidak terlalu terpengaruh oleh fanatisme merek, seperti bumbu dapur dasar (garam, gula), tisu wajah, kapas, serta cairan pembersih lantai atau sabun cuci piring.

Q: Apakah sistem belanja sembako secara grosir selalu menguntungkan untuk semua jenis kebutuhan rumah tangga?
A: Belanja grosir sangat menguntungkan untuk produk kering yang awet, memiliki masa kedaluwarsa panjang, dan dikonsumsi secara masif (seperti beras, minyak goreng, deterjen, dan tepung terigu). Namun, hindari membeli komoditas segar atau produk yang cepat busuk dalam jumlah grosir jika konsumsi rumah tangga Anda tergolong kecil agar tidak mubazir.

Q: Bagaimana cara memanfaatkan Laporan Keuangan di Aplikasi GoPay untuk mendeteksi dampak shrinkflation pada dompet kita?
A: Fitur Laporan Keuangan di Aplikasi GoPay otomatis mencatat dan mengelompokkan setiap nominal transaksi belanja Anda. Dengan membandingkan grafik total pengeluaran belanja bulanan dari waktu ke waktu, Anda bisa mendeteksi anomali finansial jika anggaran belanja terus membengkak padahal kuantitas barang yang Anda konsumsi di rumah dirasa sama saja.

Artikel Terkait