Ringkasan:
- Fokus Fungsi & Batasi Pembelian Outfit/Sepatu: Utamakan memilih sepatu lari sesuai kebutuhan (daily trainer) hingga batas pemakaian (500–800 km) serta gunakan pakaian yang nyaman/merek lokal daripada memaksakan membeli brand hype karena FOMO.
- Batasi Keikutsertaan Race & Alokasikan Anggaran: Batasi keikutsertaan lomba lari 1–2 kali saja setiap 6 bulan untuk menghemat biaya pendaftaran dan akomodasi, serta masukkan seluruh biaya hobi lari ke pos gaya hidup sehat dengan batas maksimal 10% dari pemasukan bulanan.
- Berburu Promo & Manfaatkan Pencatatan Otomatis: Manfaatkan promo diskon pada momen tertentu tanpa membeli barang di luar rencana, lalu pantau seluruh pengeluaran olahraga secara berkala menggunakan fitur Laporan Keuangan di aplikasi GoPay.
Disclaimer: Ringkasan ini dibuat menggunakan Kecerdasan Buatan (AI)
Sekilas, lari emang terlihat kayak olahraga yang murah. Tinggal pakai kaus, celana, dan sepatu olahraga, terus cus keliling kompleks atau taman terdekat. Gratis, kan?
Eits, belum tentu! Begitu hobi lari mulai serius, biasanya pengeluaran bakal ikut lari kencang. Mulai dari beli jersey, sepatu lari, smartwatch, suplemen, sampai slot maraton, rasanya kayak nggak ada habisnya!
Untungnya, ada cara atur budget lari biar kamu bisa tetap berolahraga tanpa bikin kondisi dompet ngos-ngosan. Yuk, kita cari tau sama-sama caranya!
BACA JUGA: Cara Atur Budget Olahraga
1. Investasi pada sepatu lari sesuai kebutuhan

Investasi pada sepatu lari sesuai kebutuhan | Sumber: Pexels.com/willians-huerta
Sepatu lari emang merupakan salah satu kebutuhan dalam olahraga ini. Kamu nggak disaranin pakai sepatu nongkrong atau futsal, misalnya, buat lari. Soalnya, salah pilih sepatu bisa ningkatin risiko cedera kaki.
Tapi, begitu kamu udah punya 5 pasang sepatu lari dengan fungsi yang sama, tapi cuma beda merek dan warna, itu namanya udah masuk wilayah FOMO alias nurutin keinginan doang.
Umumnya, sepatu lari punya rata-rata usia sekitar 500–800 km pemakaian atau kurang lebih 6–12 bulan. Jadi, daripada cuma FOMO ngejar rilisan terbaru dari brand yang lagi hype, mending lebih fokus ke fungsi sepatu.
Pilihlah sepatu lari yang nyaman di kakimu dan sesuai sama jenis lari sehari-hari. Misalnya, kamu bisa beli sepatu daily trainer kalau emang masih pemula. Baru nanti kalau udah waktunya sepatu tersebut pensiun, gantilah dengan yang baru.
Biar makin hemat, nggak ada salahnya cari model running shoes dari season sebelumnya yang lagi diskon di toko resmi, atau manfaatin promo tanggal kembar di e-commerce.
2. Pilih pakaian olahraga yang nyaman dan breathable

Pilih pakaian olahraga yang nyaman dan breathable | Sumber: Pexels.com/pexels-latam
Cara atur budget lari buat outfit juga sama kayak sepatu, alias jangan sampai kebawa arus tren doang. Buat atasan, utamakan kaus lari yang terbuat dari bahan ringan dan bersifat quick-dry, jadi keringat yang menempel bisa gampang kering.
Tapi, sebelum buru-buru upgrade ke merek mahal, coba bongkar isi lemari kamu. Sebetulnya, kaus berbahan katun tipis juga udah cukup nyaman buat outfit lari, kok!
Sedangkan buat celana lari, kamu perlu ingat kalau fungsinya adalah buat ngurangin gesekan antarkulit sekaligus bikin gerakanmu lebih bebas.
Untungnya, sekarang ada banyak celana lari dari brand lokal yang harganya lebih ramah kantong daripada brand internasional. Kamu jadi bisa lebih hemat, deh!
3. Fokus ke 1-2 lomba lari saja tiap 6 bulan sekali

Fokus ke 1-2 lomba lari saja tiap 6 bulan sekali | Sumber: Unsplash.com/amutiomi
Seru banget emang kalau tiap weekend ada race baru buat diikutin. Tapi, coba dipikir lagi, deh. Buat jadi peserta race, biayanya nggak cuma berhenti di pendaftaran, apalagi kalau acaranya berlangsung di luar kota.
Kamu harus keluar duit juga buat tiket pesawat atau kereta, penginapan, makan, dan masih banyak yang lain. Kalau terus dipaksain ikut tiap minggu, siap-siap aja say goodbye sama isi saldo rekening.
Bukan berarti kamu nggak boleh ikutan race sama sekali, kok. Sebaiknya, pilih aja 1–2 lomba lari yang paling kamu incar tiap 6 bulan sekali. Sisanya, kamu bisa gabung event komunitas lari yang biasanya gratis atau HTM-nya jauh lebih bersahabat.
4. Masukkan pengeluaran untuk lari ke pos gaya hidup sehat

Masukkan pengeluaran untuk lari ke pos gaya hidup sehat | Sumber: Pexels.com/karola-g
Biar hobi lari nggak sampai nyerempet pos kebutuhan lain kayak tagihan bulanan, cara atur budget lari yang dianjurkan adalah mengalokasikan dana khusus dari gaji.
Pengeluaran buat hobi lari bisa masuk ke pos gaya hidup sehat. Buat kebutuhan sekunder seperti ini, sebaiknya alokasikan maksimal 10% dari total pemasukan bulananmu.
Jadi, semisal gajimu Rp8 juta, berarti kamu bisa sisihin Rp800.000 per bulan buat nutup kebutuhan rutin lari. Mau itu nabung buat sepatu baru, snack sebelum lari, maupun ongkos ke venue.
5. Manfaatkan promo diskon dan gratisan

Manfaatkan promo diskon dan gratisan | Sumber: Unsplash.com/mustaphaturhan
Jangan gengsi berburu diskon! Kalau emang kamu udah ngincar sepatu atau perlengkapan lari tertentu, pantau terus promo dari official store, marketplace, atau momen diskon besar.
Terus, kalau kamu punya geng khusus buat lari, nggak ada salahnya patungan buat bayar coach atau sewa tempat latihan bareng.
Tapi ingat, promo bukan alasan buat beli sesuatu yang sebetulnya nggak kamu butuhin, ya. Kalau suatu barang nggak ada dalam rencana belanjamu, harga diskon 70% sekalipun tetap aja berarti kamu ngeluarin duit di luar alokasi awal.
BACA JUGA: Jogging Track Jakarta
Badan bugar, dompet pun harus tetap segar. Jangan sampai semangat ngejar personal best di jalur lari malah bikin keuanganmu berantakan.
Selain menerapkan cara atur budget lari, gunakan aplikasi GoPay buat mendaftar race atau belanja perlengkapan lari. Setiap transaksimu bakal tercatat otomatis dalam fitur Laporan Keuangan.
So, kamu bisa cek berapa banyak uang yang udah keluar buat ikut race, beli sepatu baru, jersey, dan berbagai kebutuhan lari lainnya. Manage keuangan buat biaya olahraga jadi lebih mudah, deh!
FAQ Cara Atur Budget Lari
Q: Berapa alokasi anggaran bulanan yang aman untuk hobi lari?
A: Alokasi yang disarankan adalah maksimal 10% dari total pemasukan bulanan. Anggaran ini dimasukkan ke pos gaya hidup sehat untuk membiayai kebutuhan rutin lari seperti perlengkapan, snack, hingga ongkos latihan.
Q: Kapan waktu yang tepat untuk mengganti sepatu lari dengan yang baru?
A: Sepatu lari umumnya perlu diganti setelah mencapai jarak tempuh rata-rata 500–800 km atau pemakaian sekitar 6–12 bulan. Mengganti sepatu sebelum waktunya hanya karena dorongan tren tergolong tindakan boros.
Q: Bagaimana cara menyiasati biaya tinggi untuk mengikuti lomba lari (race)?
A: Pilih 1–2 race utama yang paling diincar dalam kurun waktu 6 bulan sekali. Untuk latihan sehari-hari, manfaatkan event komunitas lari lokal yang biasanya gratis atau berbiaya jauh lebih terjangkau.
Q: Apakah harus membeli perlengkapan lari dari merek internasional agar nyaman?
A: Tidak perlu. Untuk pakaian lari (outfit), kaus katun tipis ringan atau produk dari merek lokal berkualitas sudah cukup nyaman, breathable, dan harganya jauh lebih ramah di kantong.
Q: Fitur apa yang bisa membantu memantau total pengeluaran hobi lari agar tidak overbudget?
A: Kamu bisa menggunakan fitur Laporan Keuangan di aplikasi GoPay yang secara otomatis merekap dan mengategorikan setiap transaksi pembayaran perlengkapan atau pendaftaran race dalam sebulan.







