Ringkasan:
- Momen Strategis Optimasi Investasi Reksadana: Selain faktor usia, investor perlu jeli melihat waktu terbaik untuk membeli reksadana demi memaksimalkan keuntungan, baik saat ingin melakukan diversifikasi aset, menghadapi lonjakan inflasi, ketidakpastian ekonomi, terjadinya koreksi pasar, hingga momen penurunan suku bunga BI.
- Disiplin Finansial Melalui Rutinitas Pasca-Gajian: Waktu termudah dan paling efektif untuk berinvestasi reksadana adalah segera setelah menerima gaji atau saat memiliki uang menganggur (idle money), di mana strategi Dollar Cost Averaging (DCA) secara konsisten dapat membentuk harga beli rata-rata yang stabil dan meredam keputusan emosional.
- Mulai Investasi Reksadana Praktis dan Menguntungkan Lewat GoPay: Mengoptimalkan portofolio keuangan kini dapat dilakukan kapan saja tanpa ribet melalui fitur Investasi Reksadana di aplikasi GoPay, yang menawarkan kemudahan modal terjangkau bagi pemula sekaligus keuntungan ekstra lewat berbagai penawaran Promo Investasi GoPay.
Disclaimer: Ringkasan ini dibuat menggunakan Kecerdasan Buatan (AI)
Investasi reksadana jadi favorit banyak investor karena modalnya fleksibel dan dikelola oleh manajer profesional. Meski begitu, bukan berarti kamu bisa asal-asalan pas beli reksadana
Untuk memaksimalkan potensi keuntungan, kamu perlu memperhatikan kapan waktu terbaik beli reksadana.
Memang, sih, memulai investasi sedini mungkin itu penting agar kamu bisa mendapatkan keuntungan jangka panjang yang lebih gede. Namun, selain faktor usia, masih ada beberapa momen lain yang dinilai sebagai waktu terbaik buat investasi reksadana.
Yuk, cari tau kapan aja waktu tersebut biar strategi investasimu makin optimal!
BACA JUGA: Apa Itu Reksadana
1. Saat ingin melakukan diversifikasi

Saat ingin melakukan diversifikasi | Sumber: Pexels.com/cottonbro
Selama ini, di mana kamu menyimpan uang? Kalau jawabanmu adalah rekening tabungan atau deposito, sekarang adalah saat yang tepat buat investasi reksadana!
Tabungan dan deposito memang relatif aman, tapi potensi imbal hasilnya sering kalah dari kenaikan inflasi dalam jangka panjang. Artinya, nilai uangmu bisa diam-diam tergerus walaupun nominalnya bertambah.
Nah, dengan menambahkan reksadana ke portofoliomu, uangmu bakal tersebar ke berbagai instrumen aset seperti pasar uang, obligasi, atau saham sesuai jenis reksadananya.
Strategi tersebut dikenal juga sebagai diversifikasi, yang bisa bantu mengurangi risiko kalau salah satu instrumen lagi anjlok. Misalnya, saat bunga deposito menurun, kamu masih bisa mengandalkan reksadana tertentu buat mendapatkan return yang lebih kompetitif.
Kabar baiknya lagi, reksadana juga cocok buat investor pemula yang belum punya waktu untuk memantau pasar tiap hari. Ada Manajer Investasi (MI) profesional yang bakal mengelola danamu di reksadana, sehingga proses diversifikasi jadi lebih praktis.
2. Saat inflasi naik

Saat inflasi naik | Sumber: Unsplash.com/markuswinkler
Inflasi naik juga termasuk jawaban dari pertanyaan ‘kapan waktu terbaik beli reksadana?’. Pas inflasi meningkat, harga barang dan jasa otomatis bakal ikut naik. Kalau uangmu cuma disimpan di rekening tabungan dengan bunga kecil, daya belinya pun ikut berkurang.
Dalam situasi seperti ini, reksadana bisa membantu agar danamu punya peluang tumbuh yang lebih tinggi daripada laju inflasi.
Tapi, nggak semua jenis reksadana punya ketahanan yang sama terhadap inflasi, ya. Misalnya, reksadana pasar uang memang cenderung stabil, tapi return-nya mungkin kurang optimal saat inflasi lagi tinggi.
Sementara itu, reksadana saham biasanya menawarkan potensi pertumbuhan lebih besar dalam jangka panjang, tapi risikonya juga lebih tinggi.
Maka dari itu, untuk melindungi nilai uang dari laju inflasi sekaligus mendapatkan keuntungan maksimal, pilihlah jenis reksadana sesuai dengan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing.
3. Saat ada ketidakpastian ekonomi

Saat ada ketidakpastian ekonomi | Sumber: Unsplash.com/polarmermaid
Kondisi ekonomi yang nggak pasti, baik domestik maupun global, kerap bikin pasar keuangan bergerak fluktuatif. Contohnya seperti konflik geopolitik, pelemahan nilai tukar, atau perlambatan ekonomi.
Walaupun terlihat menakutkan, kondisi tersebut sebetulnya bisa menjadi momentum strategis buat investasi reksadana, lho.
Soalnya, saat harga aset menurun akibat tekanan ekonomi, kamu jadi bisa “masuk” ke reksadana dengan harga unit yang lebih murah dari biasanya.
Untuk kondisi seperti ini, strategi investasi yang paling disarankan adalah dollar cost averaging (DCA), yaitu membeli reksadana dengan nominal tetap secara rutin tanpa peduli kondisi pasar.
DCA cocok banget buat investor pemula karena bisa membantumu disiplin berinvestasi. Selain itu, strategi ini juga bisa meratakan harga beli karena kamu beli lebih sedikit unit reksadana pas harga tinggi dan lebih banyak saat harga rendah.
4. Saat ada koreksi pasar

Saat ada koreksi pasar | Sumber: Pexels.com/AlesiaKozik
Selanjutnya, kapan waktu terbaik beli reksadana? Jawabannya adalah ketika ada koreksi pasar, yaitu situasi ketika harga aset turun cukup signifikan dalam periode tertentu.
Untuk reksadana saham, koreksi biasanya berhubungan dengan penurunan indeks harga saham seperti IHSG. Saat IHSG mengalami koreksi, nilai aktiva bersih (NAB) per unit reksadana saham bakal ikut turun.
Artinya, dengan uang yang sama, kamu bisa membeli lebih banyak unit. Jadi, pas nanti pasar kembali pulih, kamu berpeluang memperoleh keuntungan lebih besar.
Meski begitu, penting untuk diketahui bahwa memprediksi kapan harga reksadana turun bukanlah sesuatu yang mudah. Harga bisa aja turun lebih anjlok setelah dibeli.
Makanya, kalau kamu memang mau beli reksadana pas momen koreksi pasar, pastikan dana yang kamu pakai adalah uang dingin dan bukan untuk kebutuhan harian.
Dengan begini, kamu jadi punya waktu lebih panjang buat menunggu peluang pemulihan pasar dan pertumbuhan investasi di masa depan.
BACA JUGA: Cara Memilih Reksa Dana
5. Saat suku bunga BI turun

Saat suku bunga BI turun | Sumber: Unsplash.com/mufidpwt
Sebagai bank sentral, Bank Indonesia (BI) cukup rutin mengumumkan subu bunga acuan (BI rate) melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG).
Saat BI menurunkan suku bunga, inilah salah satu momen paling tepat untuk masuk atau menambah porsi di reksadana pendapatan tetap yang mayoritas berisi obligasi. Soalnya, saat suku bunga turun, biasanya harga obligasi cenderung naik.
Hal tersebut bisa terjadi karena obligasi lama dengan kupon lebih tinggi jadi lebih menarik daripada obligasi baru yang bunganya lebih rendah.
Otomatis, instrumen obligasi di reksadana pendapatan tetap bakal kecipratan potensi keuntungan jangka panjang.
Meski begitu, perlu diingat lagi bahwa reksadana pasar tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor lain seperti inflasi dan kondisi ekonomi. Karenanya, kamu tetap perlu memilih produk reksadana sesuai dengan tujuan investasi dan profil risiko.
6. Tepat setelah gajian

Tepat setelah gajian | Sumber: Pexels.com/Ahsanjaya
Kalau ditanya kapan waktu terbaik beli reksadana yang mudah diterapkan, jawabannya simpel: tepat setelah gajian masuk!
Jadi, begitu gaji cair, langsung sisihkan sebagian untuk investasi reksadana. Jangan tunggu sampai akhir bulan karena belum tentu ada sisa buat diinvestasikan.
Di sisi lain, cara tersebut juga sejalan sama strategi DCA, yang rutin membeli aset secara berkala tanpa peduli kondisi pasar.
Strategi DCA dapat mengurangi risiko membeli unit reksadana di harga terlalu tinggi. Semakin lama kamu berinvestasi dengan pendekatan DCA, akan semakin banyak pula total investasi dan peluang return yang bisa kamu dapatkan.
7. Saat punya uang nganggur

Saat punya uang nganggur | Sumber: Unsplash.com/mufidpwt
Punya uang nganggur yang belum ada tujuan pemakaiannya? Kalau iya, inilah saat tepat buat berinvestasi ke reksadana!
Dalam konteks ini, uang nganggur yang dimaksud bukan dana darurat atau uang buat kebutuhan harian, tapi uang yang benar-benar belum ada tujuan pemakaian dalam waktu dekat. Misalnya, THR, bonus tahunan, atau sisa gaji setelah kebutuhan utama terpenuhi.
Daripada uang tersebut cuma mengendap di rekening dan berisiko tergerus inflasi, kamu bisa memakainya untuk beli unit reksadana sesuai tujuan finansial dan jangka waktu investasi.
Misalnya untuk tujuan jangka panjang, reksadana saham atau campuran lebih cocok karena menawarkan potensi return lebih tinggi. Sedangkan untuk kebutuhan jangka pendek, reksadana pasar uang bakal lebih stabil.
BACA JUGA: Keuntungan Investasi Reksadana
Udah ketemu kapan waktu terbaik beli reksadana? Biar proses investasi lebih cepat dan praktis, cobain fitur Investasi GoPay aja!
Lewat fitur ini, kamu bisa mulai investasi reksadana langsung dari smartphone dengan proses yang simpel dan modal terjangkau, jadi cocok banget buat pemula maupun investor yang pengin rutin investasi tiap bulan.
Plus, pilihan produk reksadananya juga beragam sehingga bisa kamu pilih sesuai tujuan finansial dan profil risikomu. Bahkan, kamu bisa lebih untuk karena saat ini lagi ada Promo Investasi GoPay!
Yuk, mulai atur strategi investasimu sekarang juga dan beli reksadana dengan lebih mudah pakai GoPay Investment!
FAQ Kapan Waktu Terbaik Beli Reksadana
Q: Mengapa momen kenaikan inflasi dianggap sebagai waktu yang tepat untuk mulai membeli reksadana?
A: Saat inflasi naik, daya beli uang tunai di tabungan biasa akan tergerus oleh lonjakan harga barang. Membeli reksadana (terutama jenis saham atau campuran) pada momen ini memberikan peluang pertumbuhan nilai aset yang lebih tinggi guna melindungi nilai uang agar mampu mengimbangi atau melampaui laju inflasi.
Q: Bagaimana strategi Dollar Cost Averaging (DCA) membantu investor pemula saat menghadapi ketidakpastian ekonomi?
A: Strategi DCA membantu investor tetap disiplin membeli reksadana dengan nominal tetap secara rutin tanpa memedulikan fluktuasi pasar. Pendekatan ini otomatis meratakan harga beli unit, karena investor akan mendapatkan lebih banyak unit saat harga reksadana turun dan lebih sedikit unit saat harga sedang tinggi.
Q: Mengapa penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) menjadi angin segar bagi reksadana pendapatan tetap?
A: Ketika suku bunga BI turun, harga obligasi di pasar cenderung mengalami kenaikan karena obligasi lama dengan kupon tinggi menjadi lebih bernilai dan menarik. Mengingat reksadana pendapatan tetap mayoritas berisi instrumen obligasi, momen ini sangat tepat untuk menambah porsi investasi guna meraup return yang kompetitif.
Q: Apa perbedaan pemilihan jenis reksadana yang tepat saat mengalokasikan uang menganggur berdasarkan jangka waktu investasi?
A: Jika uang menganggur tersebut ditujukan untuk kebutuhan jangka pendek, reksadana pasar uang adalah pilihan terbaik karena sifatnya yang stabil dan likuid. Namun, jika dana tersebut belum akan dipakai dalam jangka panjang, reksadana saham atau campuran lebih disarankan demi mengejar potensi imbal hasil yang lebih besar.
Q: Mengapa menyisihkan dana reksadana tepat setelah gajian lebih efektif dibandingkan menunggu akhir bulan?
A: Menyisihkan dana di awal bulan memastikan alokasi investasi Anda aman sebelum terpakai untuk kebutuhan lain yang konsumtif. Pola ini sejalan dengan metode DCA yang memanfaatkan konsistensi berkala, sehingga total akumulasi unit reksadana dan peluang keuntungan jangka panjang dapat tumbuh lebih maksimal.
Q: Bagaimana cara memanfaatkan aplikasi GoPay agar aktivitas investasi reksadana menjadi lebih hemat dan praktis?
A: Anda cukup membuka aplikasi GoPay melalui ponsel pintar lalu masuk ke fitur Investasi Reksadana untuk memilih produk yang sesuai dengan profil risiko secara instan. Agar modal awal investasi Anda menjadi lebih efisien dan ramah di kantong, pastikan untuk selalu memeriksa dan mengaktifkan voucher potongan harga atau keuntungan ekstra dari Promo Investasi GoPay yang sedang tersedia sebelum menyelesaikan pembayaran.







