Biar Cuan Maksimal! Racikan Portofolio Reksadana Ideal Sesuai Profil Risikomu

18 September 2026

•

5 min

Racikan portofolio reksadana berdasarkan profil risiko

Ringkasan:

  • Profil Risiko Sebagai Kunci: Penyusunan portofolio reksadana harus disesuaikan dengan profil risiko (konservatif, moderat, atau agresif) agar investasi tetap tenang dan hasil cuan optimal.
  • Rekomendasi Racikan Portofolio: Tipe konservatif didominasi RDPU (80% RDPU, 20% RDPT), tipe moderat seimbang di tiga jenis (20% RDPU, 50% RDPT, 30% RDS), sedangkan tipe agresif didominasi saham (10% RDPU, 20% RDPT, 70% RDS).
  • Kemudahan Racik Portofolio di GoPay: Membuat, menyusun, dan mengevaluasi racikan portofolio reksadana sesuai profil risiko dapat dilakukan secara fleksibel dan praktis lewat GoPay Investasi.

Disclaimer: Ringkasan ini dibuat menggunakan Kecerdasan Buatan (AI)


Lihat teman pamer cuan dari hasil investasi reksadananya pasti bikin tergiur! Mungkin aja, kamu pernah ikutan beli produk reksadana yang sama kayak teman kamu. Tapi, begitu dicoba, kok, bukannya untung malah bikin senam jantung karena nilainya turun melulu?

Jawabannya simpel banget: dalam dunia investasi, nggak ada satu formula sakti yang cocok buat semua orang. Ingat, setiap orang punya kondisi keuangan, goals masa depan, dan ketahanan mental yang berbeda saat lihat pergerakan pasar.

Makanya, kunci utama biar kamu bisa tetap tenang saat berinvestasi dan hasil cuan lebih optimal adalah menyusun racikan portofolio reksadana berdasarkan profil risiko. Nah, apa aja kombinasi reksadana terbaik buat kamu? Yuk, cari tau di sini!

BACA JUGA: Cara Bagi Modal Investasi

Cara Mengetahui Profil Risiko Kamu

Cara Mengetahui Profil Risiko Kamu

Cara Mengetahui Profil Risiko Kamu | Sumber: Unsplash.com/sasun1990

Kata orang bijak, sebelum berangkat perang, kamu harus kenali dirimu sendiri dan medan perangnya. Tips ini juga berlaku buat investasi reksadana, lho! Sebelum menyusun strategi, coba tanya dirimu sendiri: “Gimana reaksiku kalau hasil investasiku rugi sedikit aja?”

Jawaban dari pertanyaan tersebut bakal menguak profil risiko alias seberapa besar tingkat toleransimu terhadap potensi kerugian dari uang yang kamu investasiin. Secara umum, ada tiga kategori utama, yaitu profil risiko konservatif, moderat, agresif.

Tipe konservatif biasanya benar-benar menghindari risiko sekecil apa pun dan lebih ngutamain keamanan modal. Artinya, kamu lebih suka hasil yang stabil dan sama sekali nggak menurun walaupun potensi keuntungannya jadi lebih kecil.

Terus, tipe moderat berada di posisi tengah. Kamu nggak masalah dengan harga jual turun sedikit dan berlangsung sebentar aja selama keuntungannya dalam jangka panjang tetap lebih tinggi daripada laju inflasi.

Terakhir, tipe agresif lebih siap menghadapi potensi penurunan nilai lebih gede demi mengejar keuntungan sebesar-besarnya dalam jangka panjang. Dengan kata lain, tipe ini memegang paham “high risk, high reward.”

Kalau kamu udah paham profil risikomu lebih cenderung ke konservatif, moderat, atau agresif, sekarang saatnya mengetahui alokasi aset reksadana yang disarankan.

Racikan Portofolio Reksadana untuk Profil Risiko Konservatif

Racikan Portofolio Reksadana untuk Profil Risiko Konservatif

Racikan Portofolio Reksadana untuk Profil Risiko Konservatif | Sumber: Unsplash.com/towfiqu999999

Buat kamu yang bertipe konservatif, menjaga keutuhan modal jadi prioritas nomor satu. Kamu bakal merasa cemas kalau melihat nilai portofolio berkurang walau cuma sedikit.

Dengan mempertimbangkan kekhawatiran tersebut, racikan portofolio reksadana berdasarkan profil risiko tersebut adalah kombinasi dari Reksadana Pasar Uang (RDPU) dan Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT). Tapi, RDPU tetap mengambil porsi dominan.

Idealnya, kamu menginvestasikan 80% dari total pemasukanmu ke reksadana pasar uang dan 20% sisanya ke reksadana pendapatan tetap. Biar kebayang lebih jelas, yuk, kita pakai contoh!

Anggap aja kamu punya dana sebesar Rp10 juta untuk tujuan jangka pendek seperti ngumpulin dana darurat atau liburan tahun depan. 

Kalau mengacu pada persentase yang udah disebutin, Rp8 juta perlu kamu investasikan ke RDPU agar nilainya terus bertambah secara stabil setiap hari dan lebih gampang dicairkan kapan pun.

Terus, sisa Rp2 jutanya bisa kamu alokasikan ke RDPT buat dapetin return tambahan yang sedikit lebih tinggi daripada suku bunga deposito.

Kenapa formulanya begitu? RDPU punya tingkat risiko paling rendah dan likuiditas tinggi, sementara RDPT ngasih keuntungan tambahan dari pembayaran kupon bunga obligasi yang stabil.

Racikan Portofolio Reksadana untuk Profil Risiko Moderat

Racikan Portofolio Reksadana untuk Profil Risiko Moderat

Racikan Portofolio Reksadana untuk Profil Risiko Moderat | Sumber: Unsplash.com/jakubzerdzicki

Investor dengan profil risiko tipe moderat pengin hasil yang lebih nguntungin daripada profil risiko konservatif. Meski begitu, kamu tetap pengin membatasi risiko kerugian supaya nggak terlalu gede.

Gimana cara mewujudkannya? Racikan portofolio reksadana berdasarkan profil risiko moderat perlu nerapin strategi diversifikasi reksadana secara seimbang. 

Jadi, kamu butuh tiga jenis reksadana sekaligus: Reksadana Pasar Uang (RDPU), Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT), dan Reksadana Saham (RDS).

RDPU berfungsi menjaga likuiditas, RDPT menjadi penopang imbal hasil rutin, dan RDS berperan sebagai mesin pencetak cuan ekstra. 

Dengan begitu, pertumbuhan nilainya jauh lebih cepat daripada racikan portofolio untuk profil risiko konservatif, tapi penurunan nilainya tetap terjaga saat pasar saham lagi drop karena berbagai alasan.

Terus, gimana kamu bisa mengalokasikan uang untuk 3 jenis reksadana yang berbeda biar tetap ideal? Gampangnya, kamu tinggal berpatokan pada formula 20% RDPU, 50% RDPT, dan 30% RDS.

Buat contoh pembagiannya, bayangin aja kamu mau ngumpulin dana DP rumah dalam jangka waktu 3 hingga 5 tahun ke depan. Terus, kamu punya uang Rp10 juta, masih sama kayak dari contoh sebelumnya.

Kalau mengacu pada perhitungan yang ideal buat profil risiko moderat, kamu perlu menyimpan Rp2 juta di RDPU sebagai jangkar pengaman saat butuh uang mendadak. 

Terus, 50% dari uangmu (Rp5 juta) harus disimpan di RDPT biar bisa ngasih pertumbuhan nilai yang stabil di atas rata-rata inflasi tahunan.

Terakhir, 30% sisa dari modal investasimu alias Rp3 juta (dibulatkan ke bawah biar genap) perlu kamu alokasikan ke RDS untuk memanfaatkan momentum kenaikan indeks saham.

BACA JUGA: Dollar Cost Averaging

Racikan Portofolio Reksadana untuk Profil Risiko Agresif

Racikan Portofolio Reksadana untuk Profil Risiko Agresif

Racikan Portofolio Reksadana untuk Profil Risiko Agresif | Sumber: Unsplash.com/bash__profile

Last but not least, profil risiko agresif biasanya didominasi oleh investor yang berjiwa pemberani dan punya target jangka panjang seperti di atas 5 tahun. 

Jadi, mereka punya banyak waktu buat nunggu kenaikan jangka panjang di tengah-tengah risiko penurunan nilai pasar modal. 

Kamu termasuk tipe ini? Formulasi racikan yang paling pas buatmu adalah 70% Reksadana Saham (RDS), 20% Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT), dan 10% Reksadana Pasar Uang (RDPU). 

Mungkin aja, kamu udah sadar kalau rasio sebaran jenis reksadananya berbeda banget dari racikan buat profil risiko moderat karena lebih banyak dialokasikan ke RDS ketimbang RDPT apalagi RDPU.

Wajar, soalnya reksadana saham bertugas mendongkrak imbal hasil setinggi mungkin lewat pertumbuhan saham emiten atau perusahaan besar. Sementara itu, RDPT dan RDPU tetap diperlukan buat menyangga sedikit keuntungan ekstra sekaligus ngasih bemper pengaman.

Dari racikan ini, kamu bisa dapetin potensi keuntungan akumulatif yang nggak main-main berkat efek compounding interest alias bunga berbunga dalam jangka panjang. Lantas, gimana perhitungannya?

Katakanlah kamu masih berusia 20-an atau 30-an awal dan lagi pengin nyiapin dana pensiun untuk 15 tahun ke depan. Terus, kita berasumsi kamu punya modal investasi Rp10.000.000 seperti contoh-contoh sebelumnya.

Buat racikan portofolio reksadana berdasarkan profil risiko agresif, kamu bisa alokasikan 70% dari Rp10 juta (alias Rp7.000.000) ke reksadana saham. 

Terus, kalau pasar saham lagi crash, kamu nggak perlu panik karena porsi 20% di RDPT sebesar Rp2.000.000 dan 10% di RDPU sebesar Rp1.000.000 bisa kamu pakai buat melakukan average down atau beli unit baru dengan harga yang lebih murah.

BACA JUGA: Rekomendasi Investasi

Menyusun strategi investasi reksadana memang harus mengacu pada karakter diri masing-masing. Nggak perlu ikut-ikutan orang lain, yang penting kamu punya racikan portofolio reksadana berdasarkan profil risiko sendiri.

Mau kayak gimanapun alokasi aset reksadana yang kamu ikutin, jangan lupa untuk selalu mengevaluasi kombinasi reksadana terbaik secara berkala, minimal setahun sekali. 

Siapa tau, profil risikomu berubah seiring bertambahnya usia, pendapatan, atau tanggung jawab finansial. Namanya hidup, arah pergerakannya nggak pernah bisa ditebak, kan?

Kalau udah tau apa profil risiko investasimu, saatnya bikin racikan reksadana impianmu sendiri secara fleksibel dan praktis di aplikasi GoPay! Yuk, manfaatkan promo investasi GoPay dan mulai raih goals keuangan masa depanmu!

FAQ Racikan Portofolio Reksadana Berdasarkan Profil Risiko

Q: Mengapa strategi reksadana yang sukses pada orang lain belum tentu cocok untuk kita?
A: Karena setiap orang memiliki kondisi keuangan, target masa depan, serta tingkat toleransi risiko yang berbeda-beda saat melihat pergerakan pasar.

Q: Apa saja tiga kategori utama profil risiko dalam investasi reksadana?
A: Tiga kategori tersebut adalah konservatif (menghindari risiko/mengutamakan keamanan modal), moderat (toleransi risiko sedang demi pertumbuhan di atas inflasi), dan agresif (high risk, high reward untuk jangka panjang).

Q: Bagaimana racikan portofolio reksadana yang ideal untuk profil risiko konservatif?
A: Porsi idealnya adalah 80% Reksadana Pasar Uang (RDPU) untuk stabilitas dan likuiditas, serta 20% Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT) untuk tambahan imbal hasil.

Q: Bagaimana komposisi alokasi dana reksadana bagi tipe moderat?
A: Investor moderat dapat menerapkan kombinasi seimbang yaitu 20% RDPU (jangkar pengaman), 50% RDPT (penopang imbal hasil rutin), dan 30% Reksadana Saham / RDS (mesin pencetak cuan ekstra).

Q: Mengapa investor tipe agresif mengalokasikan porsi terbesar (70%) pada Reksadana Saham?
A: Karena bertujuan memaksimalkan potensi imbal hasil jangka panjang lewat pertumbuhan emiten, serta memiliki horizon waktu yang cukup panjang untuk melewati fluktuasi pasar.

Q: Seberapa sering investor harus melakukan evaluasi terhadap portofolio reksadana?
A: Evaluasi portofolio disarankan dilakukan secara berkala, minimal satu tahun sekali, untuk menyesuaikan kembali alokasi aset dengan perubahan usia, pendapatan, atau profil risiko.

Q: Bagaimana cara menyusun racikan portofolio reksadana secara praktis di GoPay?
A: Kamu bisa langsung memilih, mengalokasikan, dan mengatur racikan berbagai jenis produk reksadana secara fleksibel sesuai profil risikomu melalui fitur GoPay Investasi.

Artikel Terkait