Jenis-Jenis Reksadana dan Risikonya: Mana yang Paling Sesuai dengan Profilmu?

25 May 2026

6 min

Jenis reksadana

Ringkasan:

  • Konservatif & Jangka Pendek: Reksadana Pasar Uang menawarkan risiko terendah dengan imbal hasil sekitar 3–5% per tahun, cocok untuk pemula dan dana darurat. Untuk hasil sedikit lebih tinggi (7–8%), Reksadana Pendapatan Tetap yang berbasis obligasi bisa menjadi pilihan jangka menengah (1–3 tahun).
  • Agresif & Jangka Panjang: Reksadana Saham dan Reksadana Indeks menawarkan potensi return terbesar namun dengan risiko tinggi, ideal untuk tujuan finansial di atas 5 tahun. Jika ingin risiko lebih terukur, Reksadana Campuran menyeimbangkan porsi saham, obligasi, dan pasar uang.
  • Keamanan & Prinsip Khusus: Bagi yang mengedepankan syariat, tersedia Reksadana Syariah yang diawasi Dewan Pengawas Syariah. Sementara untuk investor yang sangat menghindari kerugian modal, Reksadana Penjaminan memberikan proteksi nilai pokok investasi pada tanggal jatuh tempo tertentu.

Disclaimer: Ringkasan ini dibuat menggunakan Kecerdasan Buatan (AI)


Pengin mulai investasi reksadana, tapi bingung harus pilih yang mana? Wajar banget, kok, soalnya memang ada banyak jenis reksadana dengan potensi keuntungan dan tingkat risiko yang beragam.

Ada yang lebih cocok buat kamu yang pengin ambil aman, terus ada juga pilihan buat kamu yang lebih siap ambil risiko demi hasil lebih besar.

Dengan memahami perbedaannya, kamu jadi bisa memilih jenis reksadana yang sesuai sama tujuan keuangan dan profil risikomu. Yuk, kita kenalan lebih jauh dengan jenis-jenis reksadana!

BACA JUGA: Apa Itu Investasi

1. Reksadana Pasar Uang

Reksadana Pasar Uang

Reksadana Pasar Uang | Sumber: Pexels.com/patricia-bozan

Reksadana pasar uang merupakan jenis reksadana yang 100% dana investasinya ditaruh di surat berharga efek pasar uang seperti deposito, obligasi, dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Waktu jatuh tempo semua efek utang tersebut kurang dari setahun.

Kalau kamu memilih reksadana pasar uang, uangmu bakal dikelola oleh Manajer Investasi (MI) dan dialokasikan ke efek utang tersebut.

Dari seluruh jenis reksadana lain, reksadana pasar uang punya risiko paling rendah, tapi imbal hasilnya (return) pun relatif lebih kecil. Umumnya, return reksadana pasar uang adalah sekitar 3–5% per tahun.

Karena risikonya cenderung rendah, reksadana pasar uang cocok banget jadi pilihan buat investor konservatif maupun para pemula, apalagi kalau ini pertama kalinya kamu berinvestasi. Apalagi, modal awalnya pun terjangkau, bahkan bisa mulai dari Rp10.000 aja.

Terus, buat kamu yang punya tujuan finansial jangka pendek (kurang dari setahun), jenis reksadana satu ini juga bakal jadi pilihan tepat.

2. Reksadana Pendapatan Tetap

Reksadana Pendapatan Tetap

Reksadana Pendapatan Tetap | Sumber: Pexels.com/towfiqu-barbhuiya

Bagi investor dengan profil risiko konservatif yang tertarik berinvestasi reksadana, tapi pengin dapat return lebih tinggi dari reksadana pasar uang, kamu bisa coba reksadana pendapatan tetap (RDPT). Ini juga dikenal dengan nama lain Reksadana Obligasi.

Potensi return RDPT sekitar 7–8% per tahun, cocok buat memenuhi tujuan finansial dengan jangka waktu 1–3 tahun. Misalnya, untuk mengumpulkan uang buat beli laptop atau sepeda motor baru.

Memangnya, RDPT itu apa, sih? RDPT adalah jenis reksadana yang minimal 80% dananya diinvestasikan ke aset dengan pendapatan tetap. Contohnya, surat utang negara dan obligasi korporasi yang jangka waktunya lebih dari setahun.

Nah, keuntungan investasi RDPT umumnya berasal dari kupon (bunga) obligasi serta potensi kenaikan harga obligasi di pasar sekunder.

Kabar baiknya lagi, RDPT juga termasuk investasi dengan likuiditas tinggi. Artinya, kamu bisa mencairkan dana RDPT kapan aja pada hari aktif bursa.

3. Reksadana Campuran

Reksadana Campuran | Sumber: Pexels.com/kellysikkema

Kalau kamu punya profil risiko di tingkat moderat-agresif, atau pengin mencapai tujuan finansial dalam waktu 3–5 tahun, investasi reksadana campuran adalah pilihan pas. 

Jenis reksadana satu ini menawarkan potensi return di atas obligasi atau deposito, yakni sekitar 10–20% per tahun, dengan tingkat risiko yang nggak setinggi pasar saham.

Pada reksadana campuran, Manajer Investasi (MI) menempatkan dana ke kombinasi instrumen pasar uang, efek utang (obligasi), dan efek ekuitas (saham). 

Biasanya, alokasi tiap instrumen adalah sekitar 1–79% dari total portofoliomu. MI bakal menyesuaikan jumlah alokasinya dengan kondisi dan prospek pasar.

4. Reksadana Syariah

Reksadana Syariah | Sumber: Pexels.com/defrinomaasy

Reksadana syariah adalah solusi buat investor Muslim yang pengin investasi reksadana sekaligus mengikuti prinsip-prinsip syariah Islam. 

Soalnya, dana investasimu bakal ditempatkan ke portofolio efek yang sejalan sama prinsip-prinsip syariah Islam, seperti sukuk dan saham yang terdaftar di Daftar Efek Syariah (DES).

Karena bersifat syariah, jenis reksadana satu ini nggak mengandung unsur gharar (ketidakpastian), maisir (spekulasi berlebihan), maupun riba. 

Terus, bukan cuma Manajer Investasi (MI) profesional yang mengelola investasi ini, tapi ada juga Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang ikut mengawasi. Tujuannya buat memastikan kalau keseluruhan proses investasi benar-benar udah sesuai sama ketentuan syariah Islam.

Gimana dengan tingkat risikonya? Reksadana syariah termasuk reksadana campuran yang mengombinasikan sukuk, saham syariah, dan pasar uang syariah. Hal ini membuat reksadana syariah punya risiko beragam, tergantung pada jenis instrumennya.

BACA JUGA: Kenapa Harus Investasi

5. Reksadana Saham

Reksadana Saham

Reksadana Saham | Sumber: Unsplash.com/polarmermaid

Sesuai namanya, reksadana saham adalah jenis reksadana yang menempatkan 80% dana investasinya ke instrumen saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Tapi tenang aja, kamu nggak perlu memilih saham maupun mengelolanya sendiri. Kamu cuma perlu menyetor dana investasi ke Manajer Investasi (MI) melalui platform investasi online, bank, atau agen penjual resmi. 

Terus, MI bakal melakukan analisis buat memilih saham-saham terbaik.

Berbeda dari reksadana pasar uang yang low risk, reksadana saham justru menganut prinsip high risk high return. Maksudnya, jenis reksadana ini punya tingkat risiko paling tinggi, tapi potensi return-nya juga yang paling besar.

Itulah kenapa reksadana pasar saham lebih cocok buat kamu yang profil risikonya cenderung agresif dan punya tujuan finansial dengan jangka waktu di atas lima tahun. Contohnya, buat biaya pendidikan anak atau dana pensiun.

6. Reksadana Indeks

Reksadana Indeks

Reksadana Indeks | Sumber: Unsplash.com/toti1996

Reksadana indeks adalah jenis reksadananya yang sengaja dirancang buat meniru kinerja indeks pasar saham tertentu, seperti IDX30 atau IHSG. Tujuannya adalah memperoleh hasil investasi yang mirip dengan pergerakan indeks tersebut.

Cara kerjanya nggak beda jauh dari produk reksadana lain pada umumnya, kok. Dana investasimu bakal tetap dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Mereka bakal menempatkannya pada efek-efek yang terdaftar sebagai anggota indeks acuan. 

Nah, proporsi efek biasanya dibuat menyerupai atau mendekati komposisi indeks tersebut. Jadi, semisal terjadi perubahan komposisi di indeks acuan, MI bakal langsung melakukan penyesuaian biar portofoliomu tetap selaras.

Dengan portofolio investasi yang didominasi oleh saham, reksadana indeks termasuk investasi dengan risiko tinggi. 

Tapi, karena danamu ditempatkan di berbagai efek, kamu jadi bisa punya banyak saham sekaligus. Langkah diversifikasi ini juga bisa membantu mengurangi risiko kalau misalnya ada satu saham yang performanya buruk.

Jadi, buat kamu yang pengin berinvestasi secara efisien buat mencapai tujuan finansial jangka panjang, reksadana indeks adalah pilihan yang oke.

7. Reksadana Penjaminan

Reksadana Penjaminan

Reksadana Penjaminan | Sumber: Unsplash.com/micheile

Kalau berinvestasi di reksadana penjaminan, kamu bakal dapat jaminan keamanan nilai pokok investasi dari lembaga penjamin (guarantor).

Maksudnya, modal awal investasimu pasti bakal kembali dalam jumlah yang sama. Jumlahnya bisa bertambah saat ada return, tapi seandainya nilai aset investasi menurun, modalmu bakal tetap aman dan nggak berkurang.

Untuk itu, Manajer Investasi (MI) biasanya mengalokasikan mayoritas danamu (sekitar 70%) ke instrumen obligasi. Mereka bekerja sama dengan lembaga penjamin untuk memastikan nilai pokok atau modal awal investasimu terlindungi pada tanggal jatuh tempo.

Kalau kamu mencairkan dana sebelum jatuh tempo yang udah disepakati, jaminan tersebut nggak bakal berlaku lagi. Risiko juga bisa muncul kalau lembaga penjamin malah mengalami gagal bayar.

Tapi, dengan adanya jaminan tersebut, reksadana penjaminan cocok buat investor konservatif yang mencari keamanan modal pokok. Pastikan aja dana modal tersebut nggak bakal kamu butuhkan sampai tanggal jatuh tempo.

BACA JUGA: Cara Berinvestasi

Setiap jenis reksadana punya tingkat risiko dan kelebihan masing-masing. Dengan memahaminya, kamu jadi bisa menyesuaikan pilihan dengan profil risiko dan tujuan finansialmu.

Jadi, apakah kamu sudah tau mau investasi jenis reksadana yang mana? Yuk, mulai investasi langsung dari smartphone kamu pakai GoPay Investment! 

Kamu bisa lebih untung karena lagi ada promo investasi GoPay. Buktikan sendiri kemudahan dan benefit investasi reksadana di aplikasi GoPay sekarang juga!

FAQ Jenis Reksadana
Q: Mengapa produk Reksadana Pasar Uang dianggap sebagai jenis yang memiliki tingkat risiko paling rendah?
A: Karena 100% dana investasinya ditempatkan oleh Manajer Investasi pada instrumen aman jangka pendek di bawah satu tahun, seperti deposito perbankan, obligasi jangka pendek, dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Q: Dari mana saja sumber keuntungan atau imbal hasil yang didapatkan oleh investor Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT)?
A: Keuntungan RDPT umumnya bersumber dari kupon (bunga) rutin yang dihasilkan oleh obligasi negara maupun korporasi, serta adanya potensi kenaikan harga obligasi tersebut di pasar sekunder.

Q: Bagaimana cara Manajer Investasi mengelola komposisi portofolio pada produk Reksadana Campuran?
A: Manajer Investasi memiliki fleksibilitas untuk menempatkan dan menyesuaikan porsi dana antara 1% hingga 79% ke dalam kombinasi instrumen pasar uang, obligasi, dan saham secara dinamis mengikuti prospek pasar.

Q: Apa peran penting Dewan Pengawas Syariah (DPS) dalam produk Reksadana Syariah?
A: DPS berperan untuk mengawasi seluruh proses pengelolaan dana oleh Manajer Investasi agar tetap berjalan lurus dan bersih dari unsur-unsur yang dilarang dalam syariat Islam, seperti riba, gharar (ketidakpastian), dan maisir (spekulasi).

Q: Apa perbedaan mendasar antara Reksadana Saham konvensional dengan Reksadana Indeks?
A: Reksadana saham dikelola MI secara aktif untuk memilih saham-saham terbaik di bursa, sedangkan reksadana indeks dikelola secara pasif untuk meniru komposisi dan pergerakan indeks pasar saham tertentu (seperti IDX30 atau IHSG).

Q: Kapan fasilitas jaminan modal pokok pada Reksadana Penjaminan dinyatakan hangus atau tidak berlaku lagi?
A: Jaminan pengembalian modal pokok dari lembaga penjamin (guarantor) otomatis dinyatakan tidak berlaku jika investor melakukan pencairan dana sebelum tanggal jatuh tempo yang telah disepakati.

Q: Bagaimana cara pemula mengaktifkan portofolio reksadana secara instan dengan memanfaatkan smartphone?
A: Anda bisa membuka aplikasi GoPay di smartphone, masuk ke fitur GoPay Investment, lalu memilih dan membeli produk reksadana yang sesuai dengan profil risiko secara instan sekaligus menikmati keuntungan dari promo investasi GoPay.

Artikel Terkait