Ringkasan:
- Metode budgeting 80/20 merupakan solusi pengelolaan keuangan yang simpel dan fleksibel bagi mereka yang enggan mencatat pengeluaran secara rumit, yaitu dengan membagi gaji ke dalam dua pos utama: 20% untuk tabungan/investasi di awal bulan (pay yourself first) dan 80% untuk seluruh kebutuhan harian serta gaya hidup.
- Keunggulan metode ini meliputi perhitungannya yang ramah pemula, fleksibilitas alokasi pada pos 80%, pembentukan disiplin menabung, pengurangan risiko stres finansial akibat ketersediaan dana darurat, serta fleksibilitas penerapannya pada berbagai tingkat pendapatan.
- Pengawasan alokasi 80% agar tidak membengkak atau mengganggu pos tabungan dapat dievaluasi secara otomatis menggunakan fitur Laporan Pengeluaran pada aplikasi GoPay.
Disclaimer: Ringkasan ini dibuat menggunakan Kecerdasan Buatan (AI)
Good job buat kamu yang udah punya niat buat lebih rajin nabung! Tapi, baru buka catatan keuangan, kenapa udah pening duluan, ya? Ada kebutuhan harian, tagihan, bulanan, sampai investasi yang kudu dibagi ke pos masing-masing.
Kalau pembagian terlalu detail malah bikin kamu pusing, metode budgeting 80/20 bakal lebih cocok buatmu untuk mengamankan tabungan.
Memangnya kayak gimana, sih, metode budgeting dengan pola 80/20 ini? Yuk, kita kenalan lebih jauh biar bisa lebih konsisten menabung tiap bulan!
BACA JUGA: Loud Budgeting
Cara Kerja Metode Budgeting 80/20

Cara Kerja Metode Budgeting 80/20 | Sumber: Unsplash.com/jakubzerdzicki
Dengan teknik budgeting 80/20, kamu nggak perlu membagi gaji ke terlalu banyak pos. Metode ini cuma punya 2 kantong utama, yaitu 80% buat hidup kamu sekarang dan 20% buat masa depan. Kayak gimana maksudnya? Mari kita bedah cara kerjanya!
1. Segera sisihkan 20% gaji di awal bulan
Begitu gaji masuk, segera pay yourself first alias bayar ke diri sendiri buat menabung. Berapa jumlahnya?
Kalau dalam metode budgeting 80/20, kamu dianjurkan buat mengalokasikan 20% dari total pemasukan ke rekening khusus tabungan atau investasi. Contoh gampangnya, kalau gaji kamu Rp7 juta per bulan, berarti 20%-nya adalah Rp1,4 juta.
Nah, uang Rp1,4 juta ini bisa kamu pecah lagi ke beberapa bagian, misalnya Rp600.000 buat dana darurat, Rp500.000 buat investasi, dan Rp300.000 buat tabungan liburan.
Biar nggak berakhir jadi wacana doang, jangan tunggu sampai akhir bulan buat lihat apakah ada uang yang tersisa.
Kalau memungkinkan, aktifkan fitur autodebit untuk transfer otomatis ke rekening tabungan atau investasi. Dengan begini, kamu bisa membangun kebiasaan menabung secara lebih konsisten sekaligus berpeluang mendapatkan efek compounding interest.
2. 80% uang untuk kebutuhan pokok dan gaya hidup
Setelah 20% diamankan, sekarang kamu punya 80% penghasilan buat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menikmati gaya hidup.
Kalau pakai contoh gaji Rp7 juta tadi, berarti 80%-nya adalah Rp5,6 juta. Angka ini bisa kamu breakdown lagi untuk berbagai contoh pengeluaran berikut:
- Rp2 juta buat kos, kontrakan, atau cicilan tempat tinggal.
- Rp1,5 juta buat makan sehari-hari.
- Rp500.000 buat tagihan listrik, air, dan lainnya.
- Rp500.000 buat transportasi dan kuota internet.
- Rp750.000 buat nongkrong, ngopi, streaming, dan hiburan lain.
- Rp350.000 sebagai buffer untuk pengeluaran kecil yang nggak terduga.
Nominal di atas tentu bukan patokan wajib. Pembagiannya bisa kamu sesuaikan dengan kondisi masing-masing, mengingat kebutuhan dan gaya hidup tiap orang pasti berbeda. Yang penting, total pengeluaran nggak melewati batas 80%.
3. Evaluasi pengeluaran alokasi 80% agar tidak boros
Ini dia bagian yang sering ke-skip padahal penting banget dalam metode budgeting 80/20: evaluasi rutin! Jangan sampai pengeluaran di pos 80% malah jebol dan kamu berakhir “minjem” dari pos tabungan 20%.
Seminggu sekali atau tiap akhir bulan, cek seluruh transaksi yang udah kamu lakukan. Terus, periksa lagi mana transaksi yang emang benar-benar dibutuhkan, mana yang cuma impulsif atau FOMO, dan mana yang sebetulnya masih bisa dipangkas.
Sebagai contoh, setelah evaluasi kamu sadar kalau ternyata pengeluaran buat streaming mencapai Rp300.000. Padahal, ada beberapa platform yang udah nggak kamu gunakan lagi.
Nah, kamu bisa langsung unsubscribe dan alokasiin uangnya ke kebutuhan lain atau buat nambah tabungan.
BACA JUGA: Cara Kelola Keuangan Rumah Tangga
Manfaat & Kelebihan Metode Budgeting 80/20

Manfaat & Kelebihan Metode Budgeting 80/20 | Sumber: Unsplash.com/microsoft365
Cara kerja metode budgeting 80/20 simpel banget, kan? Nggak heran kalau banyak orang menerapkannya buat budgeting sehari-hari. Apalagi, budgeting pola 80/20 juga menyimpan sederet kelebihan berikut ini!
1. Perhitungan yang beginner-friendly
Buat kamu yang baru coba-coba budgeting, ngelihat banyak angka dan kategori pengeluaran bisa terasa intimidating. Belum apa-apa, rasanya udah pengin melambaikan tangan ke kamera.
Tapi, dengan metode 80/20, kamu bisa mulai budgeting dengan mengingat dua angka utama: 80% buat kebutuhan dan gaya hidup serta 20% buat nabung dan investasi.
Nggak ada rumus ribet, dan kamu juga nggak perlu bikin kategori pengeluaran sampai belasan pos.
2. Fleksibilitas tinggi dalam pengeluaran
Dalam metode budgeting 80/20, kamu mengalokasikan 80% pemasukan buat kebutuhan dan gaya hidup. Setelahnya, kamu bebas ngatur sendiri isi “kantong” 80% tersebut.
Mau ngurangin biaya transportasi karena lagi sering work from home (WFH)? Boleh. Mau porsi ngopi lebih besar karena bulan ini lagi banyak acara sama teman? Boleh juga.
Pokoknya, selagi masih dalam batas 80%, kamu bebas sesuain porsi pengeluaran dengan kebutuhan di bulan itu. Fleksibel banget, kan?
3. Membentuk kebiasaan pay yourself first
“Nanti kalau gaji ada sisa, baru ditabung.”
Padahal, cerita yang lebih sering terjadi adalah gaji keburu habis sebelum tanggal gajian. Boro-boro ada sisa buat nabung, mau beli kebutuhan harian juga rasanya ngos-ngosan.
Metode 80/20 bisa bantu kamu terhindar dari situasi tersebut. Soalnya, kamu justru didorong buat pay yourself first alias menyisihkan 20% pemasukan di awal buat ditabung atau investasi.
Awalnya mungkin kamu bakal “gatal” pengin memakai dana 20% tersebut tiap kali muncul godaan belanja di tengah bulan. Tapi, lama-lama kebiasaan ini bakal membangun mindset kamu buat konsisten nabung secara berkelanjutan.
4. Mengurangi stres finansial
Punya tabungan emang nggak otomatis bikin semua masalah finansial hilang begitu aja. Tapi, punya dana yang disisihkan secara rutin bisa ngasih jaring pengaman saat muncul pengeluaran nggak terduga.
Misalnya, tiba-tiba kamu harus ganti ban motor karena pecah di jalan, servis HP yang biasa dipakai kerja, atau kebutuhan plot twist lain di luar budget bulanan.
Dengan memiliki dana darurat, kamu bisa lebih tenang menghadapi kondisi nggak terduga yang butuh uang. Kemungkinan buat berutang pun bisa ditekan drastis, begitu juga dengan risiko stres finansial.
5. Bisa disesuaikan untuk segala tingkat pendapatan
Kabar baiknya lagi, metode budgeting 80/20 cocok diterapkan oleh siapa aja. Artinya, kamu nggak harus punya gaji ala sultan dulu buat bisa memulainya. Mau gaji Rp4 juta atau Rp40 juta, prinsip pembagiannya tetap sama dan tinggal disesuaikan aja nominalnya.
Bahkan, buat freelancer yang pemasukannya naik-turun tiap bulan, metode 80/20 juga bisa kamu terapin. Yang penting, kamu harus konsisten menghitung ulang persentase dari pendapatan yang masuk bulan itu.
BACA JUGA: Cara Mengatur Keuangan Bulanan
Mengatur keuangan nggak harus bikin pusing kalau kamu punya sistem yang simpel. Setelah nentuin porsi 80/20, kamu juga perlu tau ke mana aja uangmu pergi agar budgeting tetap on track.
Pakai aja aplikasi GoPay untuk segala jenis transaksi harianmu! Aplikasi GoPay bisa bantu kamu manage keuangan lewat fitur Laporan Pengeluaran. Fitur ini menyajikan grafik pengeluaran secara instan, sehingga kamu nggak perlu mencatat secara manual!
Dengan kombinasi metode budgeting 80/20 dan pemakaian aplikasi GoPay, transaksi maupun pengaturan keuangan sehari-hari pun jadi lebih praktis!
FAQ Metode Budgeting 80/20
Q: Apa yang dimaksud dengan konsep pay yourself first dalam metode budgeting 80/20?
A: Konsep pay yourself first adalah prinsip menyisihkan 20% dari total penghasilan langsung saat pertama kali menerima gaji untuk dialokasikan ke pos tabungan, dana darurat, atau investasi sebelum uang digunakan untuk belanja kebutuhan lainnya.
Q: Bagaimana cara membagi alokasi 20% tabungan agar lebih efektif?
A: Dana 20% dapat dipecah sesuai target keuangan pribadi, misalnya dibagi untuk dana darurat, modal investasi jangka panjang, serta pos tabungan khusus (seperti dana liburan atau kebutuhan mendatang).
Q: Apakah metode 80/20 cocok diterapkan oleh pekerja dengan penghasilan tidak tetap (freelancer)?
A: Sangat cocok. Freelancer cukup menghitung persentase 80/20 dari setiap pembayaran atau total pendapatan yang masuk pada bulan berjalan secara konsisten tanpa terikat nominal tetap.
Q: Mengapa evaluasi berkala pada alokasi 80% tetap diperlukan meskipun perhitungannya simpel?
A: Evaluasi mingguan atau bulanan diperlukan untuk mendeteksi pengeluaran impulsif (seperti langganan layanan yang tidak terpakai), memastikan gaya hidup tetap terkontrol, dan mencegah bocor halus yang berisiko mengurangi porsi tabungan 20%.
Q: Bagaimana aplikasi GoPay membantu menjaga agar pengeluaran pada pos 80% tetap on-track?
A: Aplikasi GoPay merekap seluruh transaksi harian secara otomatis ke dalam fitur Laporan Pengeluaran serta menyajikannya dalam bentuk grafik instan, sehingga pengguna dapat memantau alur kas tanpa perlu mencatat manual.








