Tren Loud Budgeting: Alasan Kenapa Bilang “Nggak Ada Budget” Itu Justru Keren

25 May 2026

8 min

loud budgeting

Ringkasan:

  • Tren Keuangan Jujur Tanpa Gengsi: Loud budgeting adalah tren keuangan ala Gen Z yang viral di TikTok sebagai kebalikan dari quiet luxury. Konsep ini mengajak seseorang untuk berani menolak ajakan nongkrong atau belanja secara terbuka dengan menyampaikan prioritas finansial mereka apa adanya, bukan karena pelit, melainkan demi mencapai tujuan keuangan tertentu.
  • Manfaat Mental dan Finansial: Menerapkan loud budgeting memberikan tiga manfaat utama, yaitu meningkatkan kesadaran finansial agar lebih mindful sebelum mengeluarkan uang, mengurangi stres akibat tekanan teman sebaya (peer pressure), serta membantu mengontrol pengeluaran harian demi mencapai target finansial jangka panjang.
  • Langkah Praktis dan Tabungan Digital GoPay: Strategi ini dapat dimulai dengan menentukan batas pengeluaran maksimum, jujur kepada orang terdekat, membuat tujuan keuangan dengan metode SMART, mencari alternatif kegiatan yang terjangkau, serta langsung menyisihkan gaji (misal dengan metode 50:30:20). Agar tabungan tidak tercampur dengan pengeluaran harian, investor bisa memanfaatkan fitur GoPay Deposito by Jago di aplikasi GoPay untuk mengamankan dana simpanan sekaligus menikmati keuntungan dari Promo GoPay Deposito yang menarik.

Disclaimer: Ringkasan ini dibuat menggunakan Kecerdasan Buatan (AI)


Dompet lagi kering, tapi tiba-tiba teman ngajak nongkrong. Dalam situasi tersebut, kira-kira kamu bakal merespons seperti apa?

Rasanya mungkin agak gengsi buat bilang, “Nggak dulu, deh, lagi bokek.” Tapi ternyata, berani bilang ‘nggak’ demi hemat justru lagi populer, lho. 

Fenomena satu ini bahkan udah jadi tren keuangan ala Gen Z yang viral di TikTok, namanya loud budgeting. Nggak cuma bantu kamu mengontrol pengeluaran, apa itu loud budgeting juga menyimpan banyak manfaat lain. 

Apa aja, sih? Dan gimana caranya biar kamu bisa ikut melakukannya? Yuk, simak informasi selengkapnya di sini!

BACA JUGA: Cara Mengatur Keuangan Bulanan

Apa Itu Loud Budgeting? 

Apa Itu Loud Budgeting?

Apa Itu Loud Budgeting? | Sumber: Unsplash.com/microsoft365

Loud budgeting adalah tren yang mengajak orang buat lebih terbuka soal kondisi dan tujuan keuangannya. Kamu nggak perlu cari-cari alasan buat menolak ajakan belanja atau nongkrong, cukup katakan apa adanya soal prioritas finansialmu.

Misalnya, daripada ikut liburan mahal cuma demi gengsi, kamu bisa terang-terangan bilang, “Aku lagi nggak ada budget buat liburan,” atau, “Aku lagi hemat buat beli laptop baru.”

Terus, gimana ceritanya loud budgeting bisa jadi tren keuangan ala Gen Z yang viral di TikTok?

Pada akhir 2023 lalu, seorang content creator bernama Lukas Battle posting video TikTok yang menyebut loud budgeting sebagai kebalikan dari quiet luxury

Dia memberi contoh nggak ikut girls’ trip ke Cabo demi melunasi biaya kuliah, atau memilih buat dinner bareng teman di rumah daripada makan di restoran mahal. Semua hal itu bisa kamu lakukan dengan bilang, “Aku lagi loud budgeting.”

Sampai artikel ini ditulis, konten tersebut udah ditonton lebih dari 1,5 juta kali dan dapat lebih dari 183.000 likes di TikTok.

Manfaat Loud Budgeting

Manfaat Loud Budgeting

Manfaat Loud Budgeting | Sumber: Unsplash.com/amoltyagi2

Setelah mengenal loud budgeting, jelas bahwa konsep ini bukan sekadar tren viral numpang lewat. Buktinya, meskipun konten awal Battle udah diposting sejak akhir 2023, sampai sekarang loud budgeting masih rame dibahas banyak orang.

Nggak heran, sih, soalnya apa itu loud budgeting memang bisa ngasih manfaat nyata buat keuanganmu. Ini dia beberapa manfaat yang bisa kamu rasakan!

1. Meningkatkan kesadaran finansial

Loud budgeting bisa bantu kamu jadi lebih sadar sama kondisi keuangan sendiri. Ketika kamu mulai terbiasa buat bilang, “Aku lagi fokus nabung,” atau, “Aku lagi hemat,” lama kelamaan kamu bakal lebih mindful sebelum ngeluarin duit.

Kalau dilakukan dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut bisa bikin kamu lebih paham ke mana uang pergi setiap bulan, mana kebutuhan yang memang penting, dan mana pengeluaran yang ternyata cuma impulsif.

Misalnya, kamu jadi sadar kalau kebiasaan ngopi di luar atau checkout barang diskon terlalu sering ternyata cukup bikin boncos budget bulanan.

2. Mengurangi stres dari peer pressure

Pernah, nggak, kamu dapat ajakan nongkrong, belanja, atau liburan pas kondisi dompet lagi kering? Karena nggak enak buat nolak, gengsi, atau mungkin takut dianggap pelit, kamu pun akhirnya tetap mengiyakan ajakan tersebut. 

Situasi tersebut dikenal juga dengan istilah peer pressure, yang tanpa sadar bisa bikin pengeluaranmu membengkak.

Nah, lewat loud budgeting, kamu bisa belajar buat lebih jujur sama kemampuan finansial sendiri tanpa merasa bersalah. Misalnya, daripada maksain diri buat ikut hangout di resto mahal, kamu bisa bilang kalau budget bulan ini lagi diprioritasin buat kebutuhan lain.

Lambat laun, kebiasaan ini bakal mengurangi stres akibat peer pressure. Soalnya, kamu nggak perlu lagi pura-pura “mampu” cuma demi ngikutin gaya hidup orang lain. 

Kondisi mental pun jadi terasa lebih ringan, plus hubungan pertemanan ikutan lebih sehat karena dibangun di atas komunikasi yang jujur.

3. Mengontrol pengeluaran demi tujuan finansial

Dengan mengenal loud budgeting dan menerapkannya secara konsisten, kamu juga bisa lebih disiplin dalam mencapai tujuan finansial. 

Ketika kamu udah punya prioritas yang jelas, misalnya beli gadget baru atau nabung dana darurat, kamu jadi lebih gampang menahan pengeluaran yang kurang penting. 

Semisal ada teman mengajamu belanja impulsif, kamu bisa langsung menolak karena uangmu lagi dialokasikan buat tujuan finansial tertentu. Alhasil, cash flow pribadi pun jadi lebih teratur dan nggak habis buat kebutuhan sesaat.

BACA JUGA: Pos Keuangan Keluarga

Cara Melakukan Loud Budgeting

Cara Melakukan Loud Budgeting

Cara Melakukan Loud Budgeting | Sumber: Unsplash.com/jakubzerdzicki

Apa itu loud budgeting memang terdengar gampang banget: tinggal bilang “aku lagi hemat” dan selesai. Praktiknya? Kamu ini butuh kejujuran, komitmen, dan keberanian buat membangun kebiasaan ini.

Kabar baiknya, loud budgeting bisa kamu mulai dengan langkah-langkah kecil berikut ini. Yuk, kita terapin bareng-bareng!

1. Tentukan batas pengeluaran maksimum 

Sebelum bisa “bersuara” soal budget, kamu perlu tahu dulu angkanya. Makanya, tentukan dulu batas pengeluaran yang jelas buat harian maupun bulanan. Tujuannya biar kamu tau seberapa banyak uang yang aman dipakai tanpa mengganggu tabungan dan kebutuhan utama.

Contohnya, kamu bisa menetapkan pengeluaran harian sebesar Rp75.000 buat makan dan transportasi. Terus, pengeluaran bulanan buat kategori hiburan adalah Rp500.000. 

Nah, angka-angka itulah yang bakal jadi pegangan saat kamu buat menolak atau menerima suatu ajakan. Dengan adanya batas yang jelas dan spesifik, kamu bisa lebih mudah menghindari pengeluaran tambahan yang berisiko bikin budget jebol.

2. Jujur soal kondisi keuangan kepada orang terdekat

Loud budgeting cuma bisa berhasil kalau kamu berani jujur soal kondisi dan prioritas keuangan. 

Awalnya mungkin bakal terasa canggung, apalagi kalau kamu termasuk tipe orang yang cenderung menghindari konflik. Tapi, semakin sering kamu memberanikan diri buat loud budgeting, lama-lama rasanya bakal lebih mudah, kok.

Tenang aja, jujur bukan berarti kamu harus buka-bukaan total soal semua detail keuangan pribadimu, kok. Kamu nggak perlu sampai menjelaskan jumlah tabungan atau cicilan kartu kredit. 

Cukup sampaikan seperlunya aja tanpa perlu bohong. Misalnya, kalau ada ajakan nongkrong yang harus kamu tolak, kamu bisa bilang, “Budget ngopi bulan ini udah habis, nih,” atau, “Sorry, aku lagi fokus nabung dana darurat dulu.” 

3. Buat financial goals jangka panjang yang spesifik 

Biar lebih konsisten dan disiplin, buatlah tujuan finansial jangka panjang yang spesifik. Jangan cuma “mau hemat”, tapi tentukan juga hematnya buat apa.

Salah satu metode terbaik buat menentukan tujuan finansial adalah dengan menggunakan kerangka SMART: specific (spesifik), measurable (terukur), achievable (realistis buat dicapai), relevant (relevan), dan timely (punya tenggat waktu).

Contohnya bisa kayak gini, “Aku mau nabung dana darurat Rp20 juta dalam 10 bulan ke depan, jadi aku harus menyisihkan Rp2 juta per bulan.”

Atau kalau kamu mau liburan, contoh tujuannya bisa seperti, “Aku mau ke Thailand akhir tahun ini. Total biayanya Rp10 juta. Sekarang udah Mei, berarti aku harus nabung at least Rp1,4 juta mulai Juni besok.”

Dengan tujuan finansial yang spesifik, kamu bisa memberi jawaban lebih kuat tiap kali ada godaan buat nongkrong mahal atau jajan impulsif.

4. Minta teman untuk saling mengingatkan 

Loud budgeting nggak harus kamu lakukan sendirian, kok. Justru, tren keuangan ala Gen Z ini dianggap lebih efektif jika ada dukungan dari teman dan keluarga.

Misalnya, sebelum makan atau ngopi bareng, kamu dan teman-teman bisa menyepakati dulu batas pengeluaran, “Kita coba keluar duit maksimal Rp150.000 per orang aja, ya, hari ini.”

Selain itu, kamu juga bisa minta sahabatmu buat saling ngingetin kalau kalian mulai kalap lihat menu di kafe, “Eh, budget jajan kamu hari ini udah menipis, lho!”

Adanya pengingat dari orang lain cenderung lebih efektif buat melawan godaan pengeluaran impulsif daripada cuma berjuang sendiri.

5. Berikan alternatif kegiatan yang gratis atau terjangkau 

Meskipun lagi loud budgeting, bukan berarti kamu nggak boleh keluar uang sama sekali buat senang-senang. Sebaliknya, kebiasaan ini justru mendorongmu buat lebih kreatif mencari cara have fun tanpa harus menguras dompet.

Daripada selalu nongkrong di coffee shop mahal, kamu bisa mengajak teman buat movie night sekalian potluck di rumah, piknik di taman, atau jogging bareng

Selain itu, acara lokal gratis seperti pameran seni atau konser terbuka juga bisa jadi destinasi hiburan yang nggak kalah menarik.

6. Tunjukkan apresiasi untuk teman yang lagi berhemat

Kebiasaan loud budgeting bakal lebih mudah diterapkan kalau lingkungan sekitarmu saling mendukung, bukan malah judging. Makanya, kalau ada teman yang lagi berhemat, kamu perlu menghargai mereka.

Sebagai contoh, kamu mengajak teman buat cobain matcha cafe yang lagi viral. Tapi, temanmu justru bilang, “Aku skip dulu ya, lagi nabung buat bayar pajak motor.” 

Berikan respons positif buat mengapresiasi usaha mereka. Kamu bisa jawab, “It’s okay. Mau kita cari kafe yang lebih murah aja?” atau sekadar merespons, “Keren! Semoga konsisten, ya.”

Meskipun terkesan sederhana, validasi kecil seperti ini bisa berarti banget buat seseorang yang lagi berjuang buat hemat sekaligus melawan peer pressure.

7. Segera sisihkan gaji buat tabungan

Setelah menerima gaji bulanan, segera transfer sebagian ke rekening tabungan terpisah. Biar nggak lupa, kamu juga bisa mengaktifkan fitur autodebet buat transfer otomatis. Jangan menunggu sisa pengeluaran karena belum tentu gajimu memiliki sisa buat ditabung.

Terus, berapa persentase gaji yang harus kamu sisihkan buat ditabung?

Jawabannya bergantung pada masing-masing kondisi keuangan, kebutuhan pengeluaran, dan gaya hidupmu. Sebagai acuan, kamu bisa menerapkan metode 50:30:20 alias 50% buat kebutuhan pokok, 30% buat hiburan atau keinginan, dan 20% buat tabungan dan investasi.

BACA JUGA: Cara Mengatur Uang Jajan Bulanan

Tren viral loud budgeting jadi bukti nyata bahwa berhemat bukanlah hal yang memalukan. Sebaliknya, berani bilang “nggak” justru bisa bantu kamu lebih sadar dalam mengatur keuangan dan mencapai tujuan finansial jangka panjang.

Buat menerapkan loud budgeting, rutinlah menabung mulai sekarang. Biar tabungan nggak tercampur sama rekening pengeluaran harian, kamu bisa buka akun deposito secara digital lewat GoPay Deposito by Jago.

Nggak cuma mudah dan praktis, kamu juga bisa lebih untung karena ada Promo GoPay Deposito yang bakal numbuhin tabunganmu. Yuk, lebih disiplin atur keuangan dengan loud budgeting dan wujudkan tujuan finansialmu dengan menabung deposito lewat GoPay!

FAQ Loud Budgeting

Q: Apa perbedaan mendasar antara konsep loud budgeting dengan tren quiet luxury?
A: Quiet luxury berfokus pada pamer kekayaan secara terselubung melalui barang-barang mewah tanpa logo yang mahal, sedangkan loud budgeting adalah kebalikannya, yaitu secara vokal dan jujur menyuarakan bahwa seseorang sedang membatasi pengeluaran demi memprioritaskan tujuan keuangan mereka.

Q: Siapa pencipta konten yang pertama kali mempopulerkan tren loud budgeting di TikTok dan kapan tren ini mulai viral?
A: Tren ini pertama kali dipopulerkan oleh seorang content creator bernama Lukas Battle melalui unggahan video TikTok-nya pada akhir tahun 2023.

Q: Bagaimana loud budgeting dapat membantu seseorang terhindar dari stres akibat peer pressure?
A: Dengan terbiasa jujur mengenai kondisi keuangan, seseorang tidak perlu lagi memaksakan diri atau berpura-pura mampu mengikuti gaya hidup kelompoknya demi gengsi, sehingga beban mental menjadi lebih ringan dan hubungan pertemanan jadi lebih sehat.

Q: Apa yang dimaksud dengan metode SMART dalam menyusun rencana atau tujuan keuangan?
A: SMART adalah kerangka kerja untuk memastikan tujuan keuangan Anda bersifat Specific (spesifik), Measurable (terukur), Achievable (realistis dicapai), Relevant (relevan dengan kebutuhan), dan Timely (memiliki target waktu yang jelas).

Q: Apakah menerapkan loud budgeting berarti kita harus memutus hubungan sosial dan tidak boleh bersenang-senang sama sekali?
A: Tidak. Loud budgeting justru melatih kreativitas untuk tetap bersenang-senang dengan cara yang lebih ramah kantong, misalnya mengganti agenda nongkrong di kafe mahal dengan kegiatan movie night atau piknik bersama di taman kota.

Q: Bagaimana cara memberikan respons atau apresiasi yang baik kepada teman yang menolak ajakan kita karena sedang berhemat?
A: Anda bisa memberikan validasi positif tanpa menghakimi, misalnya dengan menghargai keputusannya dan menawarkan alternatif kegiatan lain atau mencari tempat nongkrong yang jauh lebih murah dan sesuai dengan anggarannya.

Q: Bagaimana pembagian persentase gaji yang ideal jika menerapkan metode alokasi keuangan 50:30:20?
A: Alokasinya adalah 50% dari pendapatan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok bulanan, 30% untuk memenuhi keinginan atau hiburan, dan 20% sisanya langsung dialokasikan untuk tabungan atau investasi.

Q: Mengapa kita disarankan langsung menyisihkan uang tabungan di awal bulan daripada menunggu sisa pengeluaran?
A: Karena jika menunggu sisa pengeluaran di akhir bulan, uang cenderung akan habis akibat pengeluaran impulsif, sehingga target menabung menjadi tidak konsisten dan sulit tercapai.

Q: Di mana kita bisa menyimpan uang hasil berhemat dari tren loud budgeting ini secara aman dan praktis melalui smartphone?
A: Anda bisa langsung membuka aplikasi GoPay dan menggunakan fitur GoPay Deposito by Jago untuk mengamankan uang tabungan di rekening deposito digital yang terpisah dari saldo harian, sekaligus menikmati keuntungan maksimal dari Promo GoPay Deposito yang tersedia.

Artikel Terkait