Kenalan dengan Pos Keuangan Keluarga, "Amplop" yang Wajib Diketahui agar Finansial Lebih Sehat

13 May 2026

•

3 min

Pos keuangan keluarga

Ringkasan:

  • Alokasi Biaya Hidup dan Cicilan: Gunakan rumus 10-20-30-40 dari OJK dengan mengalokasikan 40% penghasilan untuk kebutuhan pokok (listrik, air, makan) dan maksimal 30% untuk cicilan utang agar skor kredit tetap positif dan beban finansial tidak berlebih.
  • Dana Masa Depan dan Anak: Sisihkan 10–20% penghasilan khusus untuk keperluan anak serta tabungan pendidikan. Selain itu, alokasikan 20% untuk pos dana darurat (target 6–12 kali pengeluaran) dan dana pensiun sebagai jaring pengaman jangka panjang.
  • Pos Rekreasi dan Monitoring Digital: Alokasikan 10% penghasilan untuk hiburan guna menjaga work-life balance. Gunakan fitur Laporan Pengeluaran di aplikasi GoPay untuk memantau semua pos ini secara otomatis tanpa perlu pencatatan manual yang rumit.

Disclaimer: Ringkasan ini dibuat menggunakan Kecerdasan Buatan (AI)


“Perasaan selama ini keluarga udah berhemat, tapi kenapa tetap sulit nabung, ya?”

Kalau kamu punya pertanyaan yang sama, bisa jadi penyebabnya adalah belum ada pembagian pos keuangan keluarga yang jelas.

Pos keuangan adalah cara simpel buat mengelompokkan pengeluaran keluarga supaya lebih terkontrol. Dengan sistem ini, kamu bisa memenuhi kebutuhan primer tanpa mengorbankan tujuan finansial lainnya.

Tapi, pos apa aja yang perlu ada dalam rencana keuangan keluarga? Yuk, cari tau selengkapnya di bawah ini!

BACA JUGA: Cara Mengatur Keuangan Bulanan

1. Pos biaya hidup

Pos biaya hidup

Pos biaya hidup | Sumber: Pexels.com/silverkblack

Ini dia pos paling dasar dari seluruh pengeluaran keluarga. Pos ini mencakup seluruh kebutuhan dasar keluarga yang harus dipenuhi setiap bulan: tagihan listrik, air, biaya makan dan minum harian, transportasi, internet, sampai premi asuransi.

Bedakan pos biaya hidup dari gaya hidup, ya. Biaya hidup merujuk pada kebutuhan pokok dasar, sedangkan gaya hidup lebih mengarah ke pemenuhan keinginan.

Terus, berapa banyak uang yang harus kamu sisihkan buat pos biaya hidup? 

Kalau mengikuti rekomendasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kamu bisa pakai rumus 10-20-30-40. Sisihkan 40% dari total penghasilan buat pos biaya hidup, sedangkan sisanya buat pos pengeluaran yang lain.

2. Pos pembayaran cicilan

Pos pembayaran cicilan | Sumber: Pexels.com/tara-winstead

Kalau kamu punya cicilan rutin seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR), kartu kredit, atau paylater, pos keuangan keluarga satu ini nggak boleh di-skip.

Dengan rajin membayar cicilan utang tepat waktu, kamu bisa menjaga kesehatan keuangan keluarga sekaligus membangun skor kredit yang positif.

Idealnya, total jumlah cicilan nggak boleh lebih dari 30% penghasilan. Kalau sampai melebihi batas tersebut, segera evaluasi kembali kondisi keuanganmu biar nggak sampai mengganggu kebutuhan pokok maupun tabungan keluarga.

3. Pos keperluan anak

Pos keperluan anak | Sumber: Pexels.com/fotios-photos

Bagi yang udah jadi orang tua, kamu pasti relate banget gimana kebutuhan finansial keluarga langsung meningkat signifikan sejak punya anak. 

Gimana nggak? Anggaran buat anak memang cukup banyak, mulai dari susu, popok, mainan, jasa daycare, sampai biaya sekolah seperti SPP, buku pelajaran, dan alat tulis.

Makanya, jangan lupa siapkan pos keuangan keluarga khusus buat keperluan anak-anak. Jangan lupa juga menyiapkan tabungan pendidikan sejak sedini mungkin, soalnya biaya pendidikan di Indonesia cenderung naik setiap tahun.

Untuk pos keperluan anak, kamu bisa mengalokasikan sekitar 10–20% penghasilan. Alokasi ini udah mencakup tabungan pendidikan dan kebutuhan harian si kecil, ya.

4. Pos dana darurat dan pensiun

Pos dana darurat dan pensiun

Pos dana darurat dan pensiun | Sumber: Unsplash.com/milesb

Nggak ada yang tau kapan situasi darurat bisa terjadi, entah itu kehilangan pekerjaan, tiba-tiba sakit, atau laptop buat kerja mendadak rusak. 

Pada situasi seperti itu, mau nggak mau kamu harus mengeluarkan uang tambahan. Biar nggak perlu berutang, siapkan dana darurat sebagai jaring pengamanmu. Idealnya, kamu perlu mengumpulkan dana darurat keluarga sebanyak 6–12 kali pengeluaran bulanan.

Selain dana darurat, kumpulkan juga dana pensiun untuk persiapan hari tua. Jadi, pas nanti kamu udah nggak kerja karena pensiun, kamu masih bisa membiayai hidup sendiri tanpa bergantung pada orang lain.

Buat pos dana darurat dan pensiun, kamu bisa mengikuti rumus 10-20-30-40 dari OJK. Alokasikan 20% penghasilan buat menabung atau investasi. Nah, dana darurat dan pensiun termasuk dalam alokasi tersebut.

5. Pos rekreasi

Pos rekreasi

Pos rekreasi | Sumber: Pexels.com/tima-miroshnichenko

Pos keuangan keluarga juga bisa kamu gunakan buat keperluan rekreasi atau family time, seperti makan di luar, nonton bioskop, staycation, sampai liburan ke luar kota atau negeri.

Meskipun bukan termasuk kebutuhan pokok, family time penting buat mempererat hubungan dan recharge energi, sehingga kamu bisa menikmati work-life balance.

Dalam formula 10-20-30-40, angka 10% dari penghasilan ditujukan untuk kebutuhan hiburan dan sosial, termasuk rekreasi keluarga. 

Kalau berencana liburan ke tempat jauh, buatlah dulu anggarannya biar kamu bisa family time seru tanpa bikin keuangan boncos. Terus, sertakan anggaran tersebut dalam pos rekreasi ini.

BACA JUGA: Cara Mengatur Uang Jajan Bulanan

Mulai sekarang, buatlah pos keuangan keluarga sesuai kebutuhan demi menjaga kesehatan finansial. Dengan pembagian yang jelas, kamu bisa mengontrol pengeluaran sambil memastikan kebutuhan pokok dan tujuan jangka panjang berjalan seimbang.

Biar nggak repot mencatat manual, gunakan Laporan Pengeluaran aplikasi GoPay yang merangkum semua transaksi digitalmu. Setiap transaksi otomatis tercatat sehingga kamu bisa memantau dan mengatur keuangan keluarga dengan lebih mudah.

Jangan tunda lagi, kini saatnya mengoptimalkan pos keuangan keluarga dengan bantuan aplikasi GoPay!

Artikel Terkait