Ringkasan
- Definisi dan Pemicu Doom Spending: Fenomena belanja impulsif ini merupakan respons Gen Z terhadap stres, kecemasan, serta pesimisme masa depan akibat gejolak ekonomi, yang diperparah oleh paparan tren media sosial (FOMO) dan godaan promo belanja.
- Dampak Buruk Kebablasan Belanja: Jika dijadikan pelarian emosional yang terus-menerus, kebiasaan ini dapat memicu penumpukan utang yang tidak terkendali, memperburuk kesehatan mental akibat rasa penyesalan, hingga memicu konflik dengan orang-orang terdekat.
- Strategi Memutus Siklus Impulsif: Kebiasaan ini dapat dihentikan dengan mengenali pemicu emosi pribadi, menetapkan batas anggaran maksimum, menerapkan mindful spending (memberi jeda sebelum checkout), serta mengevaluasi grafik pengeluaran lewat fitur Laporan Keuangan di Aplikasi GoPay.
Disclaimer: Ringkasan ini dibuat menggunakan Kecerdasan Buatan (AI)
Nilai tukar Rupiah naik turun, harga kebutuhan makin mahal, belum lagi berita soal ekonomi yang bikin mumet. Rasanya jadi pengin menghibur diri biar nggak stres di tengah dunia yang lagi nggak baik-baik aja.
Pantas aja kebiasaan ngopi, jajan makanan viral, dan checkout keranjang belanja masih terus jalan, terutama di kalangan Gen Z. Kalau sesekali, sih, nggak masalah. Tapi, kalau selalu dijadiin pelarian tiap lagi overthinking, hati-hati sama doom spending!
Memangnya, apa itu doom spending Gen Z? Gimana cara menghentikannya biar nggak kebablasan? Yuk, scroll sampai selesai buat dapetin informasi lengkapnya!
BACA JUGA: Loud Budgeting
Apa Itu Doom Spending?

Apa Itu Doom Spending? | Sumber: Pexels.com/karola-g
Doom spending adalah kebiasaan belanja secara impulsif sebagai bentuk respons atas stres, kecemasan, atau rasa pesimis terhadap masa depan.
Contoh gampangnya kayak gini: abis capek kerja seharian dan dimarahin bos, kamu langsung “self-reward” beli kopi mahal dan makan mewah. Atau habis lihat berita ekonomi yang bikin anxious, eh malah buka aplikasi belanja.
Awalnya memang lega pas transaksi, tapi biasanya setelah itu langsung muncul perasaan bersalah plus parno lihat saldo menipis.
Penyebab Doom Spending Gen Z

Penyebab Doom Spending Gen Z | Sumber: Pexels.com/timur-weber
Doom spending Gen Z tentu nggak muncul begitu aja. Faktor penyebabnya bermacam-macam dan sering kali numpuk bersamaan. Salah satu biang kerok utama adalah gejolak ekonomi yang nggak baik-baik aja.
Harga barang serba naik dan biaya hidup makin mahal, bikin masa depan finansial makin nggak pasti. Ujung-ujungnya jadi muncul pikiran, “Kalau masa depan udah susah, mending nikmatin uang sekarang.”
Selain itu, faktor emosional juga bisa memperkuat dorongan buat stress spending. Saat seseorang cemas, tertekan, sedih, mereka nyari pelarian dengan berbelanja untuk mendapatkan rasa senang sementara.
Terus, kalau kamu sering doomscrolling di Instagram atau TikTok, hati-hati bakal FOMO ngelihat konten outfit check, gadget terbaru, sampai liburan ke luar negeri. Akibatnya, kamu jadi pengin ikutan sampai berujung doom spending.
Godaan tersebut bakal makin sulit dilawan kalau ada promo seperti diskon besar, flash sale, atau cashback. Promo ini bikin belanja terdengar menguntungkan, padahal justru bakal nambah pengeluaran yang nggak perlu.
Dampak Buruk Doom Spending Gen Z

Dampak Buruk Doom Spending Gen Z | Sumber: Unsplash.com/towfiqu999999
Doom spending Gen Z memang bisa langsung ngasih kamu rasa excited dan lega pas checkout. Masalahnya, efeknya nggak berhenti di situ aja. Kalau sampai kebablasan, dampaknya bisa merembet ke berbagai hal berikut ini!
1. Utang menumpuk tidak terkendali
Belanja saat stres sering kali dilakukan tanpa berpikir panjang. Akibatnya, pengeluaran jadi lebih besar daripada pemasukan. Bukannya stop, beberapa orang justru malah beralih ke kartu kredit atau PayLater.
Lama-kelamaan, tagihan utang pun bakal menumpuk dan menciptakan lingkaran setan buat “gali lubang, tutup lubang”.
Pada saat yang sama, kamu juga kehilangan kemampuan finansial buat menabung dan berinvestasi. Bisa-bisa kamu nggak punya dana darurat buat menghadapi kebutuhan mendesak.
2. Kesehatan mental menurun
Banyak orang menjadikan doom spending sebagai pelarian dari stres. Ironisnya, kebiasaan ini justru jadi bumerang buat mental health.
Setelah euforia berbelanja hilang, kamu bakal merasa menyesal atau bahkan lebih stres karena baru aja mengeluarkan uang tanpa mikir panjang. Ujung-ujungnya, malah muncul beban baru di kepala.
3. Konflik dengan orang terdekat
Dampak doom spending Gen Z juga bisa merembet ke hubungan sama orang-orang terdekat, seperti orang tua, saudara, dan teman, dan pasangan.
Misalnya, pasangan kesal karena pengeluaran jadi nggak terkontrol, orang tua khawatir karena kamu sering kehabisan uang sebelum akhir bulan, atau saudara dan teman merasa terbebani saat harus membantu kondisi finansialmu.
Kalau nggak segera diperbaiki, kebiasaan ini bisa memicu pertengkaran, bikin hubungan jadi canggung dan renggang, sampai mengurangi kepercayaan terhadapmu.
Cara Berhenti Doom Spending

Cara Berhenti Doom Spending | Sumber: Pexels.com/karola-g
Kabar baiknya, doom spending adalah kebiasaan yang bisa kamu kurangi dan bahkan stop total. Ini cara-cara untuk berhenti doom spending yang bisa langsung kamu coba!
1. Kenali pemicu emosi
Coba, deh, perhatiin kapan kamu paling sering tergoda buat belanja. Apakah pas lagi bosan di rumah, stres karena kerjaan, cemas habis lihat berita, atau mungkin gara-gara nonton konten di TikTok?
Setelah tau pemicunya, jauhkan dirimu pelan-pelan dari pemicu tersebut. Misalnya, kamu bisa batasin waktu bermain socmed, matiin notifikasi aplikasi belanja, atau mengalihkan perhatian ke kegiatan lain seperti baca buku dan dengerin musik saat mulai merasa cemas.
2. Tentukan batas pengeluaran maksimum
Belanja dan jajan buat self-reward sama sekali nggak salah, kok. Tapi, tentukan batas pengeluaran maksimalnya biar nggak menggerus kebutuhan utama maupun tabungan.
Kalau anggaran belanja di bulan itu udah habis, artinya kamu harus bersabar dan menunda pembelian sampai bulan berikutnya. Cara sederhana ini bisa bantu kamu mengurangi kebiasaan doom spending Gen Z.
3. Terapkan mindful spending
Mindful spending artinya ngasih time out atau jeda ke diri sendiri sebelum mutusin buat beli sesuatu. Jadi, sebelum klik tombol checkout, coba tanya balik ke diri sendiri:
- “Apa aku benar-benar butuh barang ini?”
- “Apa ada alternatif yang lebih murah?”
- “Masih adakah barang lama yang masih layak pakai di rumah?”
Kalau ternyata kamu nggak benar-benar butuh barang tersebut, jangan ragu tunda pembelian. Memberi jeda 1–2 hari biasanya bisa mengurangi keinginan buat belanja impulsif, lho.
BACA JUGA: Cara Mengatur Keuangan Bulanan
Nggak ada kata terlambat buat mulai berhenti doom spending Gen Z. Semisal kemarin kamu sempat khilaf karena belanja saat stres, sekarang saat evaluasi. Pantau kembali semua pengeluaranmu lewat fitur Laporan Keuangan di aplikasi GoPay!
Terus, coba cek grafik pengeluaranmu; kalau tiba-tiba melonjak di tanggal-tanggal kamu lagi stres, jadikan itu warning buat lebih ngerem dan mengatur budget di bulan depan.
Dengan begini, kondisi keuanganmu bakal jadi lebih sehat, dompet tetap aman, dan stres pun nggak ikut bertambah!
FAQ Doom Spending Gen Z
Q: Mengapa ketidakpastian kondisi ekonomi justru membuat Gen Z lebih terdorong melakukan doom spending daripada menabung?
A: Ketika biaya hidup terus melonjak dan harga barang semakin mahal, masa depan finansial terasa semakin sulit dijangkau oleh Gen Z. Rasa pesimis ini memicu pola pikir instan untuk lebih memilih menghabiskan uang demi kebahagiaan jangka pendek (self-reward) saat ini, daripada menabung untuk masa depan yang mereka anggap tidak pasti.
Q: Bagaimana paparan media sosial (seperti fenomena doomscrolling) bisa memicu seseorang melakukan stress spending?
A: Saat seseorang sedang stres dan melakukan doomscrolling, mereka akan melihat berbagai konten gaya hidup, seperti outfit check, gawai terbaru, atau liburan mewah. Hal ini memicu perasaan FOMO (Fear of Missing Out) dan minder, sehingga mereka melarikan kecemasan tersebut dengan ikut berbelanja barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.
Q: Apa yang dimaksud dengan konsep mindful spending dan bagaimana cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari?
A: Mindful spending adalah konsep berbelanja secara sadar dengan memberikan jeda waktu (biasanya 1–2 hari) sebelum memutuskan membeli suatu barang. Selama masa jeda tersebut, Anda diwajibkan bertanya pada diri sendiri apakah barang tersebut benar-benar sebuah kebutuhan mendesak atau hanya sekadar pemuas emosi sesaat.
Q: Mengapa doom spending yang awalnya terasa melegakan justru bisa menjadi bumerang bagi kesehatan mental?
A: Rasa lega dan senang yang hadir saat berbelanja hanyalah respons instan dari hormon dopamin yang sifatnya sementara. Begitu euforia belanja tersebut hilang dan Anda melihat saldo tabungan menipis atau tagihan menumpuk, akan muncul rasa bersalah, cemas, dan menyesal yang justru menambah beban pikiran baru.
Q: Bagaimana fitur di Aplikasi GoPay bisa membantu kita mendeteksi dan mengerem kebiasaan doom spending?
A: Anda bisa memanfaatkan fitur Laporan Keuangan yang ada di Aplikasi GoPay. Fitur ini secara otomatis mencatat dan menampilkan grafik pengeluaran bulanan Anda. Jika grafik tersebut melonjak tajam pada tanggal-tanggal Anda sedang mengalami tekanan emosional atau stres kerja, itu menjadi alarm atau warning nyata bagi Anda untuk segera mengerem dan mengatur ulang budget belanja.







