Ringkasan:
- Fenomena Jajan Receh (Micro Spending): Pengeluaran bernominal kecil (seperti gorengan, kopi, atau seblak) yang dibayar praktis menggunakan QRIS secara berulang dapat menumpuk tanpa disadari hingga menguras saldo di akhir bulan.
- Penyebab Utama Boncos: Disebabkan oleh ilusi nominal kecil, frekuensi transaksi yang terlalu sering, hilangnya "alarm alami" dompet menipis akibat kemudahan cashless, dorongan emosi/lapar mata, serta pengaruh fenomena FOMO dari media sosial.
- Tips Mengerem dan Mengontrol Pengeluaran: Diterapkan dengan membatasi budget jajan harian, memisahkan saldo jajan ke rekening/e-wallet khusus, memberi jeda waktu sebelum beli impulsif, serta rutin mencatat dan mengevaluasi laporan pengeluaran mingguan (seperti fitur Laporan Pengeluaran di GoPay).
Disclaimer: Ringkasan ini dibuat menggunakan Kecerdasan Buatan (AI)
“Perasaan nggak pernah belanja mahal, tapi kenapa saldo udah tinggal segini aja, ya?”
Kalau kamu pernah atau bahkan sering ngalamin situasi tersebut, bisa jadi tanpa sadar kamu udah terjebak dalam fenomena jajan receh berujung boncos.
Hari ini jajan gorengan Rp10.000, besok nyeruput es kopi Rp20.000, lusa beli cimol Rp15.000. Nominalnya emang kecil-kecil sehingga pengeluaran pun nggak kerasa, apalagi kalau bayarnya tinggal scan pakai QRIS.
Tapi, begitu dikumpulin, jumlahnya lumayan bikin syok sampai bikin saldo diam-diam menipis di akhir minggu atau bulan.
Untungnya, nggak ada kata terlambat buat ngehindarin bahaya micro spending cashless semacam ini. Kamu bisa mulai dengan mengenali penyebabnya, lalu terapkan tips ngerem jajan boba, kopi, dan sejenisnya. Yuk, cari tau biar bisa tetap jajan dengan lebih bijak!
BACA JUGA: Cara Mengatur Uang Jajan Bulanan
Penyebab Fenomena Jajan Receh Berujung Boncos

Penyebab Fenomena Jajan Receh Berujung Boncos | Sumber: Pexels.com/capturavisualmoment
In this economy, jajan emang termasuk salah satu hal kecil yang bikin hari terasa lebih menyenangkan. Apalagi, sekarang transaksi makin praktis karena ada QRIS. Tinggal pilih makanan atau minuman, scan kode QR, dan kamu udah bisa nikmatin jajanan.
Jumlah transaksinya emang cenderung receh, sih, tapi justru malah bikin kamu cepat boncos. Kok, bisa? Ini dia beberapa penyebabnya yang bakal bikin kamu ngerasa relate!
1. Ilusi nominal pengeluaran kecil
Tanpa sadar, otak kita cenderung ngeremehin angka kecil. Rp10.000 buat gorengan, Rp15.000 buat seblak, dan Rp20.000 buat es kopi susu rasanya kayak nggak ngefek apa-apa ke dompet.
Masalahnya, fenomena jajan receh berujung boncos bukan soal nominal satu kali transaksi, melainkan justru akumulasinya.
Bayangin kalau dalam sehari kamu jajan dua kali aja dengan harga rata-rata Rp20.000. Kelihatannya receh, kan? Tapi, kalau kamu ngelakuin itu terus selama 30 hari dalam sebulan, totalnya bisa Rp1,2 juta. Angka segini udah nggak bisa dibilang receh lagi.
Itulah yang disebut ilusi nominal kecil sekaligus bahaya micro spending cashless. Karena setiap transaksi jajan terasa ringan, kamu jadi kurang ngeh sama total pengeluaran.
2. Frekuensi yang melebihi batas
Sekali-dua kali jajan mungkin masih terasa aman. Tapi, coba bayangin kalau itu berlangsung setiap hari, sepanjang minggu, bahkan sampai sebulan penuh. Ceritanya tentu bakal beda. Terus, apa artinya kamu nggak boleh jajan lagi?
Jajan dan nongkrong sebetulnya sah-sah aja, kok, tapi kalau frekuensinya terlalu sering, bisa-bisa saldomu bakal terkuras pelan-pelan tanpa terasa.
Dari yang awalnya cuma pengeluaran kecil, lama-lama jadi menumpuk karena kamu nggak bisa mengontrol kebiasaan jajan.
3. Akses pembayaran yang mudah
Thanks to QRIS, sekarang bayar apa pun tinggal scan pakai kamera HP. Hidup rasanya jauh lebih praktis karena kamu nggak perlu antre di ATM buat tarik tunai, keluar dompet, maupun hitung kembalian.
Tapi, justru karena secepat dan sepraktis itu, kita jadi lebih gampang terjebak dalam fenomena jajan receh berujung boncos. Bahaya micro spending cashless bikin proses ngeluarin uang jadi terasa kurang real, soalnya kamu nggak megang uang fisik sama sekali.
Nggak ada sensasi dompet menipis yang bisa jadi alarm alami buat mikir dua kali sebelum jajan. Efeknya, kita jadi ngerasa “oke-oke aja” buat terus ngeluarin uang.
4. Lapar mata dan emosi
Pernah, nggak, awalnya cuma mau beli minum, tapi begitu lihat etalase pastry kamu langsung beli juga? Atau mungkin habis capek kerja seharian, kamu tiba-tiba merasa deserve a little treat dan akhirnya jajan ini-itu tanpa direncanakan?
Kalau kamu pernah ngalamin situasi serupa, kemungkinan besar penyebabnya adalah lapar mata dan emosi semata. Soalnya, kita nggak selalu jajan karena benar-benar lapar, kok.
Sering kali, beli jajan justru jadi respons atas rasa capek, stres, penasaran, bosan, atau sekadar pengin ngasih reward kecil buat diri sendiri.
Kalau terjadi sesekali aja tentu nggak masalah. Kamu perlu mulai waspada kalau keputusan membeli lebih sering terjadi secara impulsif alias tanpa perencanaan yang bijak.
5. FOMO akibat media sosial dan pergaulan
Scroll TikTok, eh, muncul rekomendasi coffee shop baru. Pindah ke Instagram, teman-teman ternyata lagi cobain jajanan viral. Lama-lama, kamu jadi ngerasa ketinggalan kalau nggak ikutan. Ini dia yang namanya fear of missing out alias FOMO!
Nggak apa-apa, kok, kalau sesekali nongkrong di kafe hidden gem atau ikut ajakan teman buat ngopi. Tapi, sebaiknya nggak perlu ngikutin setiap tren karena bisa menyebabkan fenomena jajan receh berujung boncos.
Masing-masing transaksi tiap ngopi atau nongkrong mungkin terasa kecil, tapi kalau terlalu sering dilakuin bisa bikin uang cepat habis. Jadi, nggak semua jajanan viral wajib masuk bucket list. Pilih aja beberapa yang paling pengin kamu coba dan sesuaikan dengan budget.
BACA JUGA: Dampak Cashless ke Kebiasaan Belanja
Cara Menyikapi Fenomena Jajan Receh Berujung Boncos

Penyebab Fenomena Jajan Receh Berujung Boncos | Sumber: Unsplash.com/sincerelymedia
Setelah mengetahui penyebab dan bahaya micro spending cashless, sekarang waktunya take action! Tenang, bukan berarti kamu harus stop jajan total, kok. Biar jajan receh nggak bikin boncos, yuk, terapkan berbagai tips ngerem jajan boba kopi berikut ini!
1. Batasi nominal jajan per hari
Tentukan batas maksimal untuk jajan setiap hari. Contohnya, kamu bisa mengalokasikan Rp25.000 sehari buat beli kopi, gorengan, atau jajanan lain.
Begitu budget tersebut habis, kamu harus stop jajan di hari itu dan jangan sampai ngambil uang dari pos pengeluaran lain.
Cara ini bisa bantu kamu ngasih rambu-rambu pengeluaran yang lebih konkret. Kamu nggak cuma sekadar bilang, “Bulan ini harus hemat,” tapi punya angka yang jelas sebagai rem sebelum beli jajan.
Nggak kalah penting, sesuaikan nominal jajan dengan kondisi keuanganmu. Jangan sampai budget jajan malah ngambil jatah kebutuhan pokok, tabungan atau kewajiban lainnya.
2. Pisahkan uang untuk jajan ke rekening khusus
Fenomena jajan receh berujung boncos bakal lebih rentan terjadi kalau budget jajan tercampur sama uang buat kebutuhan lain.
Karena itu, coba pisahkan uang jajan ke rekening atau akun e-wallet khusus. Dengan cara ini, kamu bisa lebih mudah mengontrol pengeluaran buat jajan karena ada “pagar”-nya sendiri.
Misalnya, kamu udah misahin budget jajan Rp1 juta buat sebulan di akun e-wallet. Kalau saldo tersebut mulai menipis, padahal akhir bulan masih lama, tandanya kamu perlu ngerem frekuensi jajan.
3. Kurangi frekuensi beli jajanan
Nggak ada yang salah sama jajan, tapi hal tersebut bisa jadi masalah buat finansialmu kalau kamu melakukannya terlalu sering.
Yuk, mulai kurangi frekuensi jajan dari hal sederhana! Semisal biasanya kamu beli es kopi tiap pagi dan sore, pilih aja salah satu. Atau kalau selama ini kamu selalu beli camilan tiap sore, coba skip jadi 3–4 kali dalam seminggu.
Tujuannya bukan bikin hidup kamu jadi anti-jajan, kok. Sebaiknya, belilah jajan di momen yang benar-benar worth it, bukan langsung beli tiap kali pengin. Jadi, pas kamu akhirnya beli jajanan favorit, rasanya bakal lebih memuaskan.
4. Beri jeda waktu untuk berpikir
Impulsif jadi salah satu penyebab utama fenomena jajan receh berujung boncos. Makanya, sebelum jajan, coba ambil jeda waktu dan tanyakan ini dulu ke diri sendiri, “Ini beneran karena perut lagi keroncongan dan butuh diisi, atau cuma pengin karena lapar mata?”
Kalau emang lapar, tentu makan jadi kebutuhan. Tapi, kalau kamu baru aja makan terus mendadak tergoda beli Dubai chewy cookie gara-gara lihat konten makanan di TikTok, sebaiknya tunda dulu keinginan itu.
Bukan berarti kamu harus batal jajan sepenuhnya, kok. Semisal setelah berpikir kamu masih pengin banget jajan tersebut, dan budget-nya emang ada, nggak apa-apa gas aja. Bedanya, kali ini kamu jajan setelah mempertimbangkan matang-matang, bukan karena impulsif.
5. Catat dan awasi pengeluaran di akhir minggu
Buat tips ngerem jajan boba kopi secara efektif, kamu nggak boleh skip catat setiap pengeluaran. Terus, sisihkan waktu tiap akhir minggu buat review pengeluaran tersebut.
Dari sini, kamu bisa tau apa aja pengeluaran terbesar, jajan apa yang sebetulnya nggak penting-penting amat, dan mana yang masih bisa dipangkas minggu depan.
Kalau ternyata pengeluaran buat jajan udah melewati batas, kamu bisa mengurangi frekuensi atau menyesuaikan budget biar keuangan nggak berakhir boncos.
BACA JUGA: Tips Belanja harian
Fenomena jajan receh berujung boncos emang lagi marak, tapi untungnya bisa kamu hindari dengan tips ngerem jajan boba kopi di atas.
Kalau bayar jajan pakai QRIS GoPay, setiap transaksi bakal terekap otomatis di fitur Laporan Pengeluaran. Jadi, kamu bakal lebih mudah memantau uangmu udah kepakai buat apa aja. Bahaya micro spending cashless bisa lebih dihindari, deh!
Yuk, jajan lebih bijak dengan transaksi pakai QRIS GoPay! Mulai dari scan kode QR sampai memantau pengeluaran, semuanya jadi lebih gampang pakai satu aplikasi!
FAQ Fenomena Jajan Receh Berujung Boncos
Q: Apa yang dimaksud dengan bahaya micro spending cashless?
A: Micro spending cashless adalah pengeluaran bernominal kecil yang dilakukan secara berulang menggunakan metode non-tunai (seperti QRIS). Karena tidak melibatkan uang fisik, proses mengeluarkan uang terasa kurang nyata sehingga memicu sifat konsumtif tanpa disadari.
Q: Mengapa transaksi QRIS cenderung membuat seseorang lebih gampang boros?
A: Transaksi QRIS sangat cepat dan praktis tanpa perlu menarik uang tunai atau menghitung kembalian. Hal ini menghilangkan sensasi "dompet menipis" yang biasanya menjadi alarm alami seseorang untuk mengontrol pengeluarannya.
Q: Berapa batas ideal atau cara terbaik menentukan budget jajan harian?
A: Batas ideal ditentukan berdasarkan kemampuan finansial pribadi setelah dialokasikan untuk kebutuhan pokok, tabungan, dan kewajiban. Cara terbaiknya adalah menetapkan nominal pasti (misalnya Rp25.000/hari) dan tidak mengambil uang dari pos pengeluaran lain jika budget tersebut habis.
Q: Bagaimana cara mengatasi dorongan jajan akibat lapar mata atau FOMO?
A: Kamu bisa memberi jeda waktu beberapa menit untuk berpikir sebelum bertransaksi, menanyakan apakah pembelian tersebut kebutuhan atau sekadar emosi temporary, serta membatasi konsumsi konten jajanan viral di media sosial.
Q: Bagaimana fitur di aplikasi GoPay dapat membantu mencegah pengeluaran jajan yang berlebihan?
A: Setiap transaksi QRIS menggunakan GoPay akan terekap secara otomatis dalam fitur Laporan Pengeluaran, sehingga pengguna dapat memantau akumulasi pengeluaran harian dan mingguan secara akurat.







