Waspadai 7 Kesalahan Umum Pengguna E-wallet Agar Akunmu Aman

3 June 2026

•

6 min

Kesalahan umum pengguna e-wallet

Ringkasan:

  • Kecerobohan Koneksi dan Autentikasi: Kesalahan fatal yang sering dilakukan adalah bertransaksi menggunakan Wi-Fi publik yang rentan terhadap serangan Man-in-the-Middle (MitM) serta penggunaan PIN yang lemah (seperti tanggal lahir atau angka berurutan). Pengguna juga sering mengabaikan fitur 2FA (Two-Factor Authentication) dan jarang mengganti PIN secara berkala, yang memudahkan peretas mengambil alih akun.
  • Pengabaian Fitur Pemantauan: Banyak pengguna mematikan notifikasi real-time dan jarang memeriksa riwayat transaksi. Padahal, kedua fitur ini berfungsi sebagai sistem peringatan dini untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan atau transaksi tidak dikenal sebelum saldo terkuras habis.
  • Kelalaian Pemeliharaan Aplikasi: Menunda update aplikasi e-wallet merupakan celah keamanan besar karena pengguna melewatkan security patches (perbaikan keamanan) terbaru. Memperbarui aplikasi sangat penting untuk menutup celah teknis yang mungkin sudah diketahui oleh pelaku kejahatan siber.

Disclaimer: Ringkasan ini dibuat menggunakan Kecerdasan Buatan (AI)


Pakai e-wallet buat belanja memang praktis banget! Kamu cuma perlu mengandalkan smartphone buat jajan es kopi, belanja online, sampai transfer uang. 

Sayangnya, kemudahan ini bikin banyak pengguna jadi lengah. Nggak sedikit orang yang tanpa sadar melakukan kesalahan pas menggunakan e-wallet. Kalau terus dibiarin, dampaknya bisa serius banget buat keamanan akunmu. 

Memangnya, apa aja kesalahan umum pengguna e-wallet yang sering dilakukan? Yuk, kita pahami sama-sama biar transaksi digital tetap aman dan nyaman!

BACA JUGA: Tips Aman Pakai Gopay

1. Transaksi Menggunakan Koneksi Wi-Fi Publik

Transaksi Menggunakan Koneksi Wi-Fi Publik

Transaksi Menggunakan Koneksi Wi-Fi Publik | Sumber: Unsplash.com/dreamlikestreet

Wi-Fi gratis di publik memang membantu banget, apalagi pas paket data kamu lagi menipis. Berkat fasilitas ini, kamu jadi bisa mabar di warkop, online meeting di kafe, atau laptopan di bandara sambil nunggu flight.

Dengan koneksi yang sama, nggak sedikit juga orang yang menggunakan Wi-Fi publik buat transaksi pakai e-wallet, seperti bayar QRIS di kasir atau transfer. Padahal, aktivitas ini berisiko banget buat keamanan akun e-wallet, lho.

Salah satu ancaman yang paling umum terjadi adalah Man-in-the-Middle (MitM). Dalam serangan ini, pelaku menyusup ke antara pengguna e-wallet dan jaringan Wi-Fi yang diakses. Mereka bakal “mencegat” data yang kamu kirimkan, termasuk data transaksi dan informasi login, lalu menggunakan data tersebut buat menyedot saldo e-wallet.

Risikonya nggak cuma itu! Pelaku juga bisa membuat jaringan Wi-Fi palsu atau evil twin yang namanya mirip banget sama hotspot publik versi asli. 

Misalnya, suatu kafe menyediakan koneksi Wi-Fi dengan nama “Online123”. Terus, pelaku bisa aja membuat jaringan Wi-Fi palsu pakai nama sama, tapi huruf “L” di kata “online” diganti pakai huruf “i” besar yang tampilannya mirip.

Tanpa sadar, banyak pengunjung kafe yang malah terhubung ke jaringan palsu tersebut dan jadi korban serangan siber.

Maka dari itu, sebaiknya hindari mengakses e-wallet pakai jaringan Wi-Fi publik. Semisal kamu terpaksa harus online atau transaksi di luar rumah, gunakan data seluler pribadimu biar aman.

2. Memasang PIN yang Lemah

Memasang PIN yang Lemah

Memasang PIN yang Lemah | Sumber: Pexels.com/indraprojectsofficial

PIN adalah salah satu benteng keamanan akun e-wallet kamu. Jadi, udah seharusnya PIN dibuat sekuat mungkin biar nggak mudah ditebak dan dibobol. 

Sayangnya, PIN lemah justru jadi salah satu kesalahan umum pengguna e-wallet. Masih banyak orang menggunakan PIN yang mudah ditebak demi alasan praktis. Contohnya adalah angka berurutan seperti ‘123456’, angka yang diulang seperti ‘555555’, atau tanggal lahir.

Padahal, tanpa perlindungan PIN yang kuat, risiko peretasan akun e-wallet bakal lebih tinggi. Kalau sampai terjadi, pelaku bisa mengakses akunmu buat menyedot saldo atau melakukan transaksi dalam jumlah besar.

Buat meminimalisir risiko tersebut, buatlah PIN yang benar-benar unik dan nggak terduga. Hindari pakai angka yang berkaitan langsung sama identitas pribadimu, misalnya tanggal lahir atau nomor telepon.

3. Tidak Rutin Mengganti PIN

Tidak Rutin Mengganti PIN

Tidak Rutin Mengganti PIN | Sumber: Pexels.com/eduschadesoares

PIN yang kuat aja belum cukup buat melindungi akun e-wallet dari serangan siber. Kamu juga perlu menggantinya secara berkala. Kenapa, sih, langkah ini penting?

Soalnya, kebocoran data digital seperti PIN e-wallet bisa terjadi tanpa kamu sadari. Contohnya kayak pas kamu input PIN di kasir, atau mungkin kamu pernah login ke akun e-wallet di perangkat orang lain.

Nah, kejadian seperti itu berisiko membuka celah yang bisa disalahgunakan oleh orang nggak bertanggung jawab.

Jadi, buat menghindari ancaman tersebut, nggak ada salahnya mengganti PIN e-wallet setidaknya tiap tiga bulan sekali, atau setiap kali kamu merasa kalau keamanan e-wallet udah terganggu.

BACA JUGA: Ciri-ciri Dompet Digital Aman

4. Jarang Mengecek Riwayat Transaksi

Jarang Mengecek Riwayat Transaksi

Jarang Mengecek Riwayat Transaksi | Sumber: Pexels.com/karola-g

Kesalahan umum pengguna e-wallet yang juga masih sering dilakukan adalah jarang mengecek riwayat transaksi. Padahal, riwayat transaksi merupakan fitur e-wallet yang helpful banget, lho!

Tiap kali kamu bayar sesuatu pakai saldo e-wallet, bukti transaksinya bakal langsung tercatat di daftar riwayat tersebut. Fitur ini juga tersedia dalam aplikasi, kok, jadi kamu nggak perlu unduh aplikasi terpisah.

Riwayat transaksi di e-wallet bisa dibilang berfungsi sebagai “early warning system” buat menyelamatkan saldo. Tapi, fungsi ini baru optimal kalau kamu mengeceknya secara rutin.

Dengan mengecek riwayat transaksi, kamu bisa memastikan kalau seluruh pengeluaran benar-benar sesuai sama yang udah kamu lakukan. 

Jadi, semisal muncul transaksi mencurigakan yang nggak dikenali, kamu bisa langsung tau dan melaporkannya ke customer service aplikasi e-wallet.

Apalagi, belakangan ini lagi marak banget modus penipuan pakai notifikasi transfer masuk palsu lewat SMS. Kalau kamu menerima pesan seperti ini, jangan langsung percaya. Buka aja aplikasi e-wallet, terus cek sendiri riwayat transaksi buat mastiin beneran ada dana masuk atau nggak.

Yuk, mulai sekarang biasakan rutin mengecek riwayat transaksi e-wallet minimal seminggu sekali. Makin cepat transaksi aneh terdeteksi, makin cepat pula kamu bisa ambil tindakan.

5. Mematikan Notifikasi E-wallet 

Mematikan Notifikasi E-wallet

Mematikan Notifikasi E-wallet | Sumber: Unsplash.com/jakubzerdzicki

Banyak orang mematikan notifikasi di smartphone karena dianggap mengganggu. Hal ini sebetulnya wajar, apalagi kalau kamu lagi butuh fokus melakukan aktivitas tertentu.

Masalahnya, notifikasi e-wallet itu penting banget. Dengan mengaktifkan notifikasi, kamu bisa memantau transaksi e-wallet secara real-time, termasuk kalau ada transaksi mencurigakan.

Bayangin ada orang yang pakai akun e-wallet milikmu buat bertransaksi tanpa kamu sadari. Nah, dengan notifikasi aktif, informasi transaksi tersebut bakal muncul sehingga kamu bisa langsung tau dan ambil tindakan, seperti blokir akun atau menghubungi customer service.

Bisa dibilang, notifikasi real-time adalah alarm buat keamanan akun e-wallet. Jadi, usahakan jangan pernah mematikannya, ya!

6. Nggak Mengaktifkan 2FA

Nggak Mengaktifkan 2FA

Nggak Mengaktifkan 2FA | Sumber: Pexels.com/zulfugarkarimov

Two-factor authentication (2FA) adalah sistem keamanan berlapis yang efektif melindungi akun digital dari akses ilegal. Hal ini berlaku juga buat akun e-wallet.

Sayangnya, kesalahan umum pengguna e-wallet justru nggak mengaktifkan 2FA karena merasa repot. Padahal, tanpa 2FA, siapa pun yang punya password-mu bisa langsung login ke akun e-wallet. 

Tapi, dengan mengaktifkan 2FA, pengguna harus menginput kode verifikasi tambahan yang dikirim ke perangkat pribadi pengguna asli. Alhasil, akun e-wallet jadi lebih sulit diretas atau diakses sembarangan.

Jadi, walaupun misalnya seorang pembajak mengetahui password-mu, mereka bakal tetap butuh faktor kedua atau kode tambahan buat masuk. Pada saat bersamaan, kamu juga menerima peringatan tiap kali ada percobaan login.

7. Jarang Update Aplikasi

Jarang Update Aplikasi

Jarang Update Aplikasi | Sumber: Pexels.com/brettjordan

Menunda update aplikasi e-wallet mungkin kelihatan sepele, tapi sebetulnya diam-diam bisa membuka celah keamanan yang dimanfaatin sama orang nggak bertanggung jawab.

Soalnya, update aplikasi bukan cuma memperbarui tampilan atau fitur, tapi juga perbaikan sistem keamanan (security patches). Perbaikan ini dirancang khusus buat menutup celah keamanan yang ditemukan.

Jadi, kalau nggak rutin update aplikasi e-wallet, otomatis kamu masih memakai versi aplikasi yang mungkin celah kelemahannya udah diketahui pihak-pihak nggak bertanggung jawab. Ini sama aja kayak bukain pintu buat para peretas. 

Makanya, yuk, rajin update aplikasi e-wallet! Biar nggak bolak-balik buka App Store atau Play Store, kamu bisa mengaktifkan fitur update otomatis. Dengan begini, aplikasi e-wallet bakal selalu menginstal versi terbaru buat memberikan perlindungan maksimal.

BACA JUGA: Cara Mengamankan Akun E-wallet

Transaksi digital pakai e-wallet memang bikin aktivitas sehari-hari jadi lebih sat-set dan praktis. Tapi, di balik kemudahan tersebut, kamu perlu lebih waspada menjaga keamanan akun. 

Hindari berbagai kesalahan umum pengguna e-wallet buat mencegah risiko penipuan maupun pembobolan akun. Kalau pakai Gopay, kamu bisa lebih tenang dengan mengaktifkan fitur Perlindungan Akun sebagai bagian dari sistem proteksi Gopay Aman.

Fitur ini dapat membantu meningkatkan keamanan akun Gopay-mu melalui berbagai lapisan perlindungan, mulai dari password, PIN, 2FA, sampai Touch ID dan Face ID

Mulai sekarang, yuk, lebih bijak menggunakan e-wallet dan aktifkan fitur keamanan akun biar transaksimu selalu aman!

FAQ Kesalahan Umum Pengguna E-wallet

Q: Apa itu serangan Man-in-the-Middle (MitM) yang sering mengincar pengguna Wi-Fi publik?
A: Serangan Man-in-the-Middle (MitM) adalah modus kejahatan siber di mana peretas menyusup di antara perangkat Anda dan jaringan internet yang sedang terhubung. Pelaku kemudian mencegat, membaca, hingga mencuri seluruh data sensitif yang Anda kirimkan, termasuk informasi login akun dan data transaksi keuangan.

Q: Mengapa kita harus menghindari pembuatan PIN e-wallet menggunakan tanggal lahir atau nomor telepon?
A: Tanggal lahir dan nomor telepon merupakan data personal yang sangat mudah dilacak atau diakses oleh orang lain (melalui media sosial atau rekayasa sosial). Memakai data tersebut sebagai PIN membuat proteksi akun menjadi lemah dan sangat gampang dibobol oleh pelaku kejahatan.

Q: Seberapa sering idealnya kita harus mengganti PIN dompet digital agar akun tetap aman?
A: Anda disarankan untuk melakukan pembaruan atau mengganti PIN dompet digital setidaknya setiap tiga bulan sekali, atau segera menggantinya kapan pun Anda merasa telah menginput PIN di tempat yang kurang aman atau di perangkat milik orang lain.

Q: Mengapa mengaktifkan fitur Two-Factor Authentication (2FA) itu bersifat wajib bagi pengguna e-wallet?
A: Karena 2FA memberikan lapisan pertahanan ganda. Meskipun peretas berhasil mengetahui kata sandi atau PIN Anda, mereka tetap tidak akan bisa masuk ke dalam akun tanpa adanya kode verifikasi khusus yang dikirimkan secara langsung ke perangkat fisik milik Anda.

Q: Apa fungsi utama dari rutin mengecek riwayat transaksi yang ada di dalam aplikasi dompet digital?
A: Riwayat transaksi berfungsi sebagai early warning system (sistem peringatan dini). Dengan mengeceknya minimal seminggu sekali, Anda bisa memastikan seluruh pengeluaran sudah sesuai dan dapat langsung mendeteksi serta melaporkan jika ada aktivitas transfer atau pemakaian saldo misterius yang tidak Anda ketahui.

Q: Bagaimana fitur proteksi dari ekosistem GoPay Aman membantu pengguna menghindari dampak kesalahan-kesalahan umum di atas?
A: Ekosistem GoPay Aman dirancang khusus untuk menutup celah kelengahan pengguna dengan menyediakan rangkaian fitur proteksi tingkat tinggi. Mulai dari kewajiban verifikasi PIN yang kuat, otentikasi biometrik mutakhir (Touch ID & Face ID), sistem keamanan berlapis, hingga layanan aduan konsumen yang siap siaga menjaga saldo Anda tetap terlindungi dengan optimal.

Artikel Terkait