Ringkasan:
- Pengaruh Inflasi terhadap Reksadana: Inflasi dapat menggerus return riil investasi serta memicu kenaikan suku bunga yang dapat menekan harga obligasi pada reksadana pendapatan tetap maupun saham sektor ritel.
- Sektor dan Jenis Aset yang Diuntungkan: Di tengah kenaikan inflasi, reksadana pasar uang cenderung lebih stabil karena penyesuaian bunga deposito, sedangkan reksadana saham sektor perbankan dan komoditas berpotensi meraih performa positif.
- Pantau & Kelola Portofolio di GoPay: Kamu bisa memantau pergerakan Nilai Aktiva Bersih (NAB), melakukan diversifikasi, serta membeli berbagai jenis produk reksadana secara mudah dan praktis langsung lewat fitur GoPay Investasi.
Disclaimer: Ringkasan ini dibuat menggunakan Kecerdasan Buatan (AI)
Pernah kepikiran kenapa hasil investasi reksadana bisa naik-turun, padahal kamu nggak ngapa-ngapain? Kemungkinan besar, ini ada kaitannya dengan tingkat inflasi nasional.
Efek inflasi terhadap reksadana emang lumayan signifikan. Pas tingkat inflasi berubah, kondisi pasar keuangan, suku bunga, daya beli masyarakat, sampai harga aset dalam portofolio reksadana juga ikut bergerak.
Kok, bisa gitu? Dan seberapa jauh efek inflasi nasional terhadap reksadana? Yuk, baca terus sampai akhir biar kamu bisa lebih cermat dalam berinvestasi!
BACA JUGA: Apa Itu Reksadana?
1. Efek pada imbal hasil riil

Efek pada imbal hasil riil | Sumber: Unsplash.com/piggybank
Laporan reksadana nunjukin bahwa investasimu untung. Tapi, ternyata untung di atas kertas belum tentu untung beneran. Soalnya, yang perlu kamu hitung adalah return atau imbal hasil riil, yaitu keuntungan investasi setelah dikurangi inflasi.
Sebagai contoh, reksadanamu ngasih return 5% dalam setahun, tapi inflasi tahun itu mencapai 6%. Berarti, nilai investasimu secara riil justru minus 1%. Uangnya emang kelihatan nambah, tapi daya belinya menyusut.
Sebaliknya, semisal tingkat inflasinya 4%, artinya pertumbuhan nilai investasi reksadanamu masih positif.
Karena itu, tiap kali kamu cek performa reksadana, jangan cuma lihat angka return-nya. Bandingkan juga sama laju inflasi di tahun itu biar kamu tau untung riilnya berapa.
2. Efek pada NAB reksadana pasar uang & pendapatan tetap

Efek pada NAB reksadana pasar uang & pendapatan tetap | Sumber: Pexels.com/kindelmedia
Efek inflasi terhadap reksadana ternyata juga bergantung pada jenis reksadananya sendiri. Ketika inflasi naik, Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral biasanya bakal menaikkan suku bunga acuan buat menekan laju kenaikan harga.
Buat reksadana pasar uang, situasi tersebut cenderung menguntungkan. Soalnya, isi portofolio reksadana pasar uang didominasi deposito jangka pendek. Ketika suku bunga naik, bunga deposito juga ikut naik sehingga imbal hasilnya jadi lebih tinggi.
Tapi, lain cerita kalau inflasi nasional naik lebih cepat daripada penyesuaian bunga deposito. Bisa-bisa imbal hasilnya jadi “kalah cepat” sehingga gagal ngimbangin inflasi.
Sementara itu, untuk reksadana pendapatan tetap, isi portofolionya didominasi obligasi. Alhasil, Nilai Aktiva Bersih atau NAB-nya justru rawan menurun ketika suku bunga naik. Kondisi ini berhubungan langsung dengan poin berikutnya soal harga obligasi.
3. Efek pada harga obligasi

Efek pada harga obligasi | Sumber: Unsplash.com/sajadnori
Sebelum membahas lebih jauh soal efek inflasi terhadap harga obligasi, penting buat diingat bahwa hubungan obligasi dan suku bunga itu berbanding terbalik.
Saat suku bunga naik, obligasi lama dengan kupon bernilai lebih rendah jadi kurang menarik dibanding obligasi baru yang kuponnya lebih tinggi mengikuti suku bunga terbaru. Otomatis, harga obligasi lama jadi turun agar imbal hasilnya tetap kompetitif.
Nah, peningkatan suku bunga ini biasanya dilakukan oleh BI sebagai respons atas kenaikan inflasi nasional.
Jadi, kalau kamu berinvestasi reksadana pendapatan tetap yang isinya mayoritas obligasi, menyusutnya harga obligasi bakal menyebabkan NAB reksadana ikut turun.
Sebaliknya, kalau nanti suku bunga mulai dipotong, harga obligasi bakal berpotensi kembali naik. NAB reksadana pendapatan tetap pun bisa ikut meningkat lagi.
4. Efek pada harga saham sektor komoditas dan perbankan

Efek pada harga saham sektor komoditas dan perbankan | Sumber: Pexels.com/kindelmedia
Kalau dibandingin sama pasar uang dan pendapatan tetap, efek inflasi terhadap reksadana saham cenderung lebih kompleks.
Nggak semua sektor saham bakal ikutan babak belur saat inflasi naik. Seenggaknya ada 2 sektor yang malah cenderung diuntungkan, yaitu komoditas dan perbankan.
Sektor komoditas dan energi, seperti minyak dan tambang, justru merupakan salah satu pemicu inflasi itu sendiri. Ketika harga komoditas dunia melonjak, harga jual produk di sektor ini bakal ikut naik ngikutin harga pasar global.
Alhasil, emiten di sektor komoditas dan energi bisa nikmatin keuntungan dari kenaikan pendapatan langsung.
Sementara itu, sektor perbankan diuntungkan melalui jalur suku bunga. Saat BI meningkatkan suku bunga acuan demi meredam inflasi, bank biasanya bakal memperlebar Net Interest Margin (NIM).
NIM adalah selisih antara bunga kredit yang bank salurkan dengan bunga simpanan yang mereka kasih kepada nasabah. Ketika NIM melebar, laba bersih bank berpotensi ikut naik.
Jadi, kalau portofolio reksadana sahammu didominasi emiten dari sektor komoditas dan perbankan, kamu lebih berpeluang dapetin cuan di tengah kenaikan inflasi.
BACA JUGA: Jenis Reksadana
5. Menekan harga saham sektor konsumsi dan ritel

Menekan harga saham sektor konsumsi dan ritel | Sumber: Pexels.com/yankrukov
Kalau sektor komoditas dan perbankan diuntungkan oleh kenaikan inflasi, sektor konsumsi dan ritel justru sebaliknya.
Saat harga barang-barang terus-menerus naik akibat inflasi, daya beli masyarakat otomatis bakal menurun. Orang-orang jadi lebih selektif saat belanja. Mereka cenderung beralih ke produk yang lebih murah atau menunda beli barang yang bukan kebutuhan pokok.
Situasi ini langsung berdampak pada performa emiten saham di sektor konsumsi dan ritel, terutama yang menjual produk bersifat “keinginan” (bukan kebutuhan mendesak) seperti fashion atau furnitur .
Masalahnya nggak berhenti di permintaan produk yang menurun. Perusahaan juga harus menghadapi biaya operasional dan bahan baku yang ikut naik akibat inflasi. Mau nggak mau, margin keuntungan makin menipis.
Kalau udah begini, harga saham mereka bakal cenderung turun. Efeknya, kalau reksadana saham kamu banyak diisi oleh emiten konsumsi dan ritel, performanya pun bakal ikut anjlok.
6. Meningkatnya beban biaya operasional Manajer Investasi

Meningkatnya beban biaya operasional Manajer Investasi | Sumber: Pexels.com/yankrukov
Ada satu efek inflasi terhadap reksadana yang masih jarang dibahas investor, yaitu biaya operasional manajer investasi (MI).
Dalam investasi reksadana, ada yang namanya expense ratio alias biaya yang dibebankan kepada investor. Nah, inflasi tinggi bisa bikin expense ratio ikutan naik.
Soalnya, expense ratio dihitung dari total biaya operasional pengelolaan reksadana, seperti dari biaya kustodian, transaksi, dan distribusi. Total biaya tersebut kemudian dibagi dengan rata-rata dana kelolaan atau Asset under Management (AUM).
Ketika inflasi naik, biasanya banyak investor bakal cemas hingga mencairkan reksadananya rame-rame. Otomatis, jumlah AUM jadi mengecil, sedangkan biaya operasional MI cenderung tetap atau bahkan bisa naik.
Mau nggak mau, beban biaya per investor jadi lebih besar secara persentase. Kondisi ini bisa mengurangi return bersih yang kamu terima.
7. Meningkatkan volatilitas harga harian reksadana

Meningkatkan volatilitas harga harian reksadana | Sumber: Unsplash.com/polarmermaid
Inflasi tinggi bisa bikin pasar lebih gampang naik-turun drastis dalam waktu singkat. Soalnya, saat inflasi naik, pasar mulai menebak-nebak apakah suku bunga bakal bertahan atau ikut naik.
Hal tersebut mendorong banyak investor untuk segera menyesuaikan portofolio. Ada yang panik menjual aset, tapi nggak sedikit juga yang buru-buru masuk ketika sinyal inflasi mereda.
Reaksi ini menyebabkan harga obligasi dan saham jadi bergerak lebih volatil. Akibatnya, NAB reksadana ikut naik-turun lebih tajam, khususnya pada reksadana pendapatan tetap dan saham.
Tapi, begitu inflasi mulai kembali stabil, biasanya fluktuasi tersebut bakal mereda dengan sendirinya. Jadi, usahakan untuk nggak panik jual aset di tengah jalan, ya!
BACA JUGA: Cara Kerja Reksadana
Efek inflasi terhadap reksadana ternyata bermacam-macam. Semisal inflasi mulai berpengaruh pada performa reksadanamu, sebaiknya jangan langsung panik dan buru-buru menjual asetmu.
Daripada mengambil keputusan karena terbawa kondisi pasar, mulai sekarang cobalah memantau performa reksadana dan diversifikasi secara rutin. Semuanya bisa kamu lakukan dengan mudah lewat GoPay Investasi di aplikasi GoPay!
Kamu bisa mengakses beragam instrumen investasi dalam satu platform, sehingga lebih mudah mengecek perkembangan investasi tanpa perlu pindah-pindah platform. Investasi reksadana jadi lebih mudah dan praktis bersama GoPay!
FAQ Efek Inflasi Terhadap Reksadana
Q: Mengapa imbal hasil (return) reksadana yang bernilai positif masih bisa mengalami kerugian secara riil?
A: Karena return riil dihitung dari keuntungan investasi dikurangi laju inflasi; jika persentase inflasi lebih tinggi daripada persentase return, maka daya beli nilai uang secara riil tetap mengalami penurunan.
Q: Mengapa kenaikan suku bunga acuan BI akibat inflasi dapat menurunkan NAB reksadana pendapatan tetap?
A: Kenaikan suku bunga menyebabkan harga obligasi lama di portofolio reksadana pendapatan tetap mengalami penurunan agar imbal hasilnya tetap kompetitif dibanding obligasi baru, sehingga NAB reksadana ikut menyusut.
Q: Sektor saham apa saja yang cenderung berkinerja positif saat terjadi kenaikan tingkat inflasi nasional?
A: Sektor komoditas/energi (diuntungkan kenaikan harga pasar global) dan sektor perbankan (diuntungkan oleh pemekaran Net Interest Margin saat suku bunga naik).
Q: Apa yang dimaksud dengan expense ratio dan bagaimana inflasi dapat meningkatkannya?
A: Expense ratio adalah rasio biaya operasional pengelolaan reksadana terhadap total dana kelolaan (AUM); saat inflasi memicu penarikan dana massal (redemption), nilai AUM mengecil sehingga porsi persentase biaya per investor meningkat.
Q: Bagaimana cara praktis memantau dan mengelola investasi reksadana menggunakan aplikasi GoPay?
A: Kamu dapat memantau perkembangan portofolio, mengecek kinerja, dan melakukan diversifikasi berbagai produk investasi secara mudah melalui menu GoPay Investasi di dalam aplikasi GoPay.







