Mengenal Reksadana Dividen: Cara Dapatkan Passive Income Rutin

30 October 2026

•

5 min

Reksadana dividen dan capital gain

Ringkasan:

  • Perbedaan Mekanisme Keuntungan: Dividen reksadana berasal dari pembagian hasil aset portofolio (seperti kupon obligasi atau dividen saham) yang dibagikan secara berkala, sedangkan capital gain diperoleh dari selisih kenaikan Nilai Aktiva Bersih (NAB) saat unit reksadana dijual kembali.
  • Bentuk Penerimaan & Efek NAB: Dividen dapat diterima berupa dana tunai atau di-reinvestasi otomatis menjadi unit tambahan (yang akan menyesuaikan NAB per unit), sementara capital gain baru terealisasi sebagai uang tunai ketika investor melakukan penjualan unit.
  • Akses Praktis di GoPay: Kamu dapat mengeksplorasi beragam pilihan produk reksadana, memilih yang sesuai dengan profil risiko, hingga memantau pertumbuhan aset secara praktis melalui fitur GoPay Investasi di aplikasi GoPay.

Disclaimer: Ringkasan ini dibuat menggunakan Kecerdasan Buatan (AI)


Pernah, nggak, kamu bertanya-tanya dari mana asalnya keuntungan investasi reksadana? Ternyata, jawabannya ada dua, yaitu dividen dan capital gain.

Baik reksadana dividen dan capital gain sama-sama bisa bikin investasimu tumbuh, tapi dengan mekanisme yang berbeda. 

Memangnya, seperti apa perbedaan dividen dan capital gain dalam investasi reksadana? Biar makin kebayang, yuk, kenali beda keduanya dan gimana pengaruhnya ke investasi kamu!

BACA JUGA: Cara Kerja Reksadana

1. Sumber keuntungan

Sumber keuntungan

Sumber keuntungan | Sumber: Unsplash.com/kobuagency

Dividen dan capital gain sama-sama ngasih keuntungan buat investor reksadana, tapi cara dapetnya beda banget. 

Dalam reksadana, dividen merujuk ke pembagian hasil investasi kepada para pemegang unit. Uangnya berasal dari keuntungan yang udah dikumpuin oleh Manajer Investasi (MI) dari isi portoflio reksadana.

Contohnya, kupon bunga obligasi yang jadi bagian portofolio, atau dividen saham dari emiten yang sahamnya dipegang reksadana. Dengan kata lain, dividen merupakan hasil kerja keras aset-aset dalam reksadana yang dibagi ke investor.

Sementara itu, capital gain muncul dari selisih harga ketika kamu menjual unit reksadana dengan harga saat kamu beli dulu. Sederhananya, semisal Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit reksadanamu naik dari harga beli, selisih itulah yang jadi capital gain-mu.

Sebagai contoh, kamu membeli unit reksadana saat NAB per unitnya masih Rp2.000, lalu nilainya naik jadi Rp2.500. Kalau kamu menjual unit tersebut, selisih Rp500 per unit inilah jadi capital gain sebelum memperhitungkan biaya lain yang berlaku.

2. Frekuensi waktu perolehan

Frekuensi waktu perolehan

Frekuensi waktu perolehan | Sumber: Unsplash.com/icons8

Perbedaan reksadana dividen dan capital gain juga terlihat dari frekuensi waktu perolehan. Dividen umumnya dibagikan kepada investor sesuai jadwal dan kebijakan dalam masing-masing prospektus produk.

Alhasil, frekuensi pembagian dividen pun berbeda-beda, bisa setiap bulan, 3 bulan, 6 bulan, atau ada juga yang jadwalnya nggak menentu. Skema ini cocok buat kamu yang pengin dapat passive income rutin.

Kalau capital gain, ceritanya beda lagi karena nggak punya jadwal tetap. Waktu perolehan capital gain bergantung pada keputusanmu sendiri, kapan mau jual unit reksadana. Jadi, kamu bebas mau jual hari ini, minggu depan, atau bahkan 3 tahun lagi.

3. Bentuk penerimaan

Bentuk penerimaan

Bentuk penerimaan | Sumber: Unsplash.com/defrino

Dari segi bentuk penerimaan, dividen reksadana justru cenderung lebih fleksibel daripada capital gain. Kamu bisa pilih mau terima dividen dalam bentuk dana tunai yang ditransfer ke rekening, atau di-reinvest otomatis jadi tambahan unit reksadana baru.

Semisal kamu pilih opsi kedua, jumlah unit reksadana yang kamu punya bakal terus bertambah tanpa perlu setor atau top up dari kantong sendiri. Opsi ini bakal ngasih efek compounding alias keuntungan berlipat ganda dari hasil reinvest.

Di sisi lain, capital gain umumnya cuma bisa dicairkan dalam bentuk uang tunai saat kamu menjual kembali unit reksadanamu. 

Hasil penjualannya bakal langsung ditransfer ke rekening yang udah kamu daftarin. Jadi, kalau mau putar uangnya lagi buat diinvestasikan kayak dividen, kamu harus top up sendiri dana tersebut.

4. Efek pada NAB per unit

Efek pada NAB per unit

Efek pada NAB per unit | Sumber: Unsplash.com/piggybank

Ini dia perbedaan reksadana dividen dan capital gain yang sering bikin investor pemula kaget. Soalnya, setiap kali dividen reksadana dibagikan, biasanya NAB per unit bakal langsung turun.

Tenang, ini bukan berarti kamu auto rugi, kok. Nilai yang “hilang” dari NAB sebetulnya udah pindah ke rekeningmu dalam bentuk uang tunai, atau ke akun investasimu dalam bentuk unit tambahan. Artinya, total kekayaanmu tetap sama, tapi bentuknya aja yang berubah.

Nah, efek capital gain terhadap NAB per unit udah pasti beda karena nggak bagi-bagi dividen. Saat nilai aset dalam portofolio reksadanamu meningkat, otomatis NAB per unit juga ikut naik.

Kamu bisa “mengamankan” kenaikan nilai tersebut dengan menjual kembali unit reksadana. Selisih NAB pas jual dikurangi NAB pas beli inilah yang jadi capital gain kamu.

BACA JUGA: Cara Bagi Modal Investasi

5. Risiko fluktuasi

Risiko fluktuasi

Risiko fluktuasi | Sumber: Unsplash.com/toti1996

Namanya juga investasi, udah pasti ada risikonya. Tapi, memang, tingkat risikonya bisa berbeda-beda, termasuk untuk reksadana dividen dan capital gain.

Kalau dibandingkan, reksadana yang rutin membagikan dividen biasanya cenderung lebih “tenang” daripada reksadana dengan capital gain. Soalnya, mayoritas portofolio ditempatkan di obligasi atau surat utang, baik yang diterbitkan pemerintah maupun korporasi.

Tapi, ingat, risiko lebih rendah bukan berarti bebas risiko sama sekali, ya. Tetap ada kemungkinan nilai portofolio turun semisal situasi pasar obligasi lagi kurang bersahabat.

Terus, gimana dengan capital gain? Sifatnya cenderung lebih fluktuatif, terutama kalau kamu berinvestasi di reksadana saham. Soalnya, NAB per unitnya ngikut naik-turunnya harga saham di portofolio, yang setiap hari selalu berubah.

Jadi, semisal kamu jual unit reksadana saat harganya lagi turun, yang bakal kamu dapetin adalah capital loss, bukan capital gain.

6. Ketersediaan dalam jenis reksadana 

Ketersediaan dalam jenis reksadana

Ketersediaan dalam jenis reksadana | Sumber: Unsplash.com/towfiqu-barbhuiya

Sekarang, pertanyaannya adalah reksadana apa aja yang nawarin keuntungan dalam bentuk dividen dan capital gain?

Umumnya, jenis reksadana yang dikenal rutin membagikan dividen adalah reksadana pasar tetap dan reksadana terproteksi.

Reksadana pasar tetap biasanya rutin membagikan dividen setiap bulan, 3 bulan, atau 6 bulan. Uang akan langsung masuk ke rekening investor atau di-reinvest ke unit reksadana yang sama. 

Sementara untuk reksadana terproteksi, MI biasanya membeli surat utang dan menahannya sampai jatuh tempo, baru setelah itu membagikan hasilnya kepada investor.

Bagi yang lebih tertarik dengan capital gain, kamu bisa berinvestasi di reksadana pasar uang, saham, atau campuran. Berbagai jenis reksadana ini sama-sama punya NAB per unit yang bisa berubah sesuai nilai aset dalam portofolio. 

Tapi, tingkat fluktuasinya berbeda-beda. Reksadana saham, misalnya, punya fluktuasi paling tinggi daripada reksadana campuran dan pasar uang. 

Alhasil, risiko reksadana saham pun lebih tinggi, tapi juga sejalan dengan potensi capital gain-nya karena mengikuti prinsip “high risk, high return”.

7. Kecocokan dengan tujuan investasi dan profil risiko

Kecocokan dengan tujuan investasi dan profil risiko

Kecocokan dengan tujuan investasi dan profil risiko | Sumber: Pexels.com/danykurstudio

Nggak kalah penting, jangan beli unit reksadana dividen dan capital gain cuma karena FOMO. Pilihlah produk yang paling sesuai sama tujuan investasi dan profil risikomu.

Kalau kamu mengutamakan kestabilan, lebih suka lihat “hasil nyata” yang rutin masuk rekening, serta punya profil risiko rendah sampai moderat, reksadana pendapatan atau terproteksi bisa menjadi pilihan pas.

Kamu bakal menerima dividen secara berkala yang juga cocok buat tujuan jangka pendek–menengah, seperti dana liburan atau persiapan kebutuhan 1–3 tahun ke depan.

Tapi, kalau kamu punya profil risiko moderat-agresif, nggak keberatan lihat nilai investasi sering naik-turun, serta punya tujuan jangka panjang 5 tahun ke atas, reksadana saham atau campuran lebih direkomendasikan.

Kedua jenis reksadana tersebut dapat memberimu keuntungan berupa capital gain dari potensi pertumbuhan yang lebih maksimal.

BACA JUGA: Cara Memilih Reksa Dana

Jadi, di antara reksadana dividen dan capital gain, udah tau mana yang lebih cocok buat kamu? Saatnya eksplorasi beragam pilihan reksadana sesuai dengan target finansial dan profil risikomu di aplikasi GoPay!

Tersedia beragam produk reksadana dalam satu platform, sehingga kamu bisa lebih mudah mencari reksadana yang paling cocok denganmu. Kamu juga bisa cek perkembangan investasi langsung dari aplikasi, jadi nggak perlu ribet pindah-pindah platform.

Jangan lewatin juga promo Produk Keuangan biar investasimu makin untung! Yuk, segera tentukan target finansial dan mulai perjalanan investasimu dengan lebih praktis lewat aplikasi GoPay!

FAQ Reksadana Dividen dan Capital Gain

Q: Apa perbedaan utama antara dividen dan capital gain dalam reksadana?
A: Dividen adalah pembagian hasil kelolaan aset portofolio yang dibagikan secara rutin, sedangkan capital gain adalah keuntungan dari kenaikan harga unit (NAB) yang didapat saat kamu menjual reksadana tersebut.

Q: Mengapa Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit sering turun saat dividen dibagikan?
A: Hal itu wajar karena nilai yang berkurang pada NAB dipindahkan menjadi dana tunai ke rekeningmu atau ditambahkan sebagai unit reksadana baru, sehingga total nilai kekayaanmu tetap sama.

Q: Jenis reksadana apa yang umumnya memberikan keuntungan berupa dividen rutin?
A: Reksadana pendapatan tetap dan reksadana terproteksi umumnya rutin membagikan dividen dari hasil kupon obligasi secara berkala.

Q: Opsi mana yang lebih cocok untuk investasi jangka panjang, dividen atau capital gain?
A: Jika mengincar pertumbuhan modal maksimal jangka panjang (5+ tahun), reksadana berbasis capital gain (seperti reksadana saham) atau opsi pembagian dividen yang di-reinvestasi otomatis (compounding) bisa menjadi pilihan tepat.

Q: Bagaimana cara memilih dan berinvestasi pada produk reksadana yang paling sesuai dengan tujuan keuangan kita?
A: Kamu bisa langsung mengeksplorasi berbagai jenis produk reksadana, memantau perkembangan portofolio, serta memanfaatkan promo keuangan menarik secara praktis melalui fitur GoPay Investasi di aplikasi GoPay.

Artikel Terkait