Sehabis euforia gajian di awal bulan, beberapa hari kemudian tiba-tiba kamu sudah bengong sambil memandangi saldo rekening dan mikir, “Kok uangku tinggal segini, ya? Perasaan baru kemarin masuk!”
Memang, ini adalah masalah sejuta umat yang sering bikin pusing tujuh keliling. Tapi tenang aja, sebenarnya masalah utamanya bukan selalu karena gaji kamu nggak cukup besar, lho. Justru, ada cara membagi uang gaji agar cukup dan nggak cepat habis sebelum akhir bulan.
Yuk, kita kupas tuntas strateginya di sini supaya rekening kamu tetap makmur sampai tanggal gajian berikutnya!
BACA JUGA: Cara Mengatur Uang Jajan Bulanan
1. Gunakan metode 50/30/20

Gunakan metode 50/30/20 | Sumber: Unsplash.com/microsoft365
Kalau kamu baru mau mulai serius mengatur keuangan, kamu bisa coba metode 50/30/20 dari yang gampang banget buat diikutin, berapa pun nominal gajimu.
Cara membagi uang gaji agar cukup dengan metode dari Elizabeth Warren ini adalah kamu harus membagi pendapatan bersihmu ke dalam tiga kategori besar: Kebutuhan (Needs), Keinginan (Wants), dan Tabungan atau Investasi (Savings/Debts).
Sebanyak 50% gaji kamu musti dialokasikan untuk kebutuhan pokok, misalnya sewa tempat tinggal, cicilan, tagihan listrik, air, transportasi, hingga belanja bahan makanan bulanan.
Selanjutnya, alokasi 30% bisa kamu gunakan untuk kesenangan pribadi atau gaya hidup karena kamu juga butuh self-reward biar nggak gampang stres! Jenisnya sendiri bisa bermacam-macam, mulai dari nonton bioskop, langganan streaming, sampai jajan kopi kekinian.
Terakhir, sisa 20%-nya wajib disisihkan untuk tabungan, dana darurat, atau investasi masa depan.
Contohnya, anggap aja gaji bersih kamu per bulannya adalah Rp6.000.000. Kalau pakai metode 50/30/20, berarti kamu punya jatah Rp3.000.000 untuk kebutuhan primer, Rp1.800.000 untuk healing, dan Rp1.2000.000 untuk ditabung.
2. Pertimbangkan metode 40/30/20/10

Pertimbangkan metode 40/30/20/10 | Sumber: Unsplash.com/towfiqu999999
Ngerasa cara membagi uang gaji agar cukup pakai metode 50/30/20 kurang pas karena kamu punya cicilan agak besar, harus menafkahi keluarga, atau pengen berdonasi? Ada cara alternatifnya, yaitu metode 40/30/20/10.
Cara kerja metode ini sebenarnya mirip dengan 50/30/20, tapi porsinya sedikit digeser untuk mengakomodasi nilai-nilai lain dalam hidupmu.
Pembagiannya adalah 40% untuk kebutuhan sehari-hari, 30% untuk cicilan produktif atau kewajiban finansial lainnya, 20% untuk tabungan, dan 10% khusus untuk amal atau kirim uang ke orang tua.
Dengan asumsi gaji bulanan kamu adalah Rp6.000.000 sama seperti contoh sebelumnya, berarti kamu dapat jatah Rp2.400.000 buat biaya hidup, Rp1.800.000 untuk bayar cicilan, Rp1.200.000 untuk tabungan/investasi, dan Rp600.000 buat zakat atau membantu keluarga.
3. Utamakan gaji untuk kebutuhan penting

Utamakan gaji untuk kebutuhan penting | Sumber: Unsplash.com/jakubzerdzicki
Cara membagi uang gaji agar cukup yang nggak kalah penting adalah jangan lupa buat daftar prioritas.
Begitu notifikasi gaji masuk ke HP, jangan langsung buka aplikasi belanja online, ya! Justru, kamu harus membayar semua kewajiban tetap dulu.
Buat daftar berisikan apa aja pengeluaran yang kalau dibiarin menunggak akan menimbulkan masalah besar, seperti sewa kontrakan, tagihan listrik, asuransi kesehatan, atau cicilan yang punya bunga.
Kenapa ini penting? Dengan melunasi pos pengeluaran wajib di awal, kamu jadi tau ada berapa sisa uang yang bisa kamu pakai buat kebutuhan lain.
Selain itu, pisahkan antara apa yang kamu butuhkan untuk bertahan hidup dengan apa yang kamu inginkan sekadar untuk gengsi. Dengan begitu, kamu nggak bakal kehabisan uang buat hal-hal penting karena udah kepakai duluan saat lapar mata.
4. Pisahkan rekening gaji, belanja, dan tabungan

Pisahkan rekening gaji, belanja, dan tabungan | Sumber: Unsplash.com/austindistel
Biar pembagian gaji jadi lebih gampang, sebaiknya kamu punya lebih dari satu rekening. Soalnya, fatal banget kalau kamu pakai uang di rekening utama yang seharusnya untuk belanja bulanan sampai habis cuma buat beli tiket konser mahal.
Idealnya, kamu punya tiga rekening buat berbagai kebutuhan. Yang pertama adalah rekening untuk terima gaji dari tempat kerja, sekaligus berfungsi untuk bayar tagihan tetap seperti air, listrik, sewa kos, dan lainnya.
Rekening yang kedua bisa kamu gunakan untuk menabung. Untuk yang ini, sebaiknya jangan sentuh isi uangnya kecuali buat keadaan darurat, misalnya perawatan medis atau perbaikan kendaraan buat berangkat kerja.
Terus, rekening yang terakhir buat apa? Kamu bisa pakai dompet digital atau rekening bank tanpa biaya admin untuk keperluan jajan sehari-hari. Kalau uang di rekening belanja sudah habis, ya sudah, kamu harus berhenti jajan sampai bulan depan tanpa harus mengganggu uang tabungan atau uang bayar kosan.
BACA JUGA: Cara Mengatur Keuangan di Bulan Ramadan
5. Sisihkan gaji untuk dana darurat

Sisihkan gaji untuk dana darurat | Sumber: Unsplash.com/andretaissin
Hidup itu penuh kejutan, dan sayangnya nggak semua kejutan itu menyenangkan. Bisa aja ban motor kamu tiba-tiba bocor pas jalan ke tempat kerja, laptop tiba-tiba mati total padahal perlu banget buat kerja, atau ada keluarga butuh bantuan mendesak.
Itulah sebabnya kamu perlu dana darurat. Banyak orang sering mengabaikan pos keuangan ini karena ngerasa baik-baik aja, padahal dana darurat adalah penyelamat supaya kamu nggak terjerat hutang saat musibah datang.
Lantas, berapa persen sih, yang harus disisihkan? Seenggaknya, sisihkan 10% dari gaji kamu setiap bulan khusus untuk dana darurat. Lakukan terus sampai kamu punya cadangan dana minimal 3 hingga 6 kali lipat dari pengeluaran bulanan kamu.
Memang, proses ini butuh waktu, tapi perasaan tenang yang kamu dapatkan saat punya uang cadangan itu nggak ternilai harganya.
6. Catat setiap transaksi yang dilakukan

Catat setiap transaksi yang dilakukan | Sumber: Unsplash.com/goodnotes5
Pernah dengar istilah "mati karena seribu luka kecil"? Dalam keuangan, ini artinya kamu bangkrut bukan karena beli mobil, tapi karena terlalu banyak jajan cilok, kopi susu, atau sering keluar uang untuk biaya admin bank.
Pasalnya, biaya transaksi yang kecil dan awalnya nggak terasa pada akhirnya bakal menumpuk.Makanya, kamu perlu mencatat setiap transaksi.
Tenang aja, kamu nggak perlu bawa buku catatan ke mana-mana, kok. Gunakan aplikasi di smartphone kamu untuk cek riwayat transaksi dan mencatat pengeluaran. Dengan mencatat, kamu bisa melihat pola pengeluaranmu sendiri paling banyak buat apa aja.
7. Evaluasi pengeluaran setiap minggu

Evaluasi pengeluaran setiap minggu | Sumber: Unsplash.com/jakubzerdzicki
Menunggu sampai akhir bulan untuk cek kondisi keuangan itu ibarat mengecek bensin saat mobil udah mogok di tengah jalan.
Karena itu, kamu lebih disarankan buat evaluasi keuangan secara mingguan. Luangkan waktu sekitar 15 menit setiap hari Minggu malam atau hari lainnya kamu lagi senggang untuk melihat kembali catatan pengeluaran kamu selama seminggu terakhir.
Saat melihat riwayat pengeluaran, tanya dirimu sendiri: "Apa aku udah belanja sesuai anggaran?", "Ada nggak, pengeluaran yang sebenarnya bisa dihindari?", atau "Masih sisa berapa budget untuk minggu depan?"
Semisal di minggu pertama kamu ternyata terlalu boros, kamu masih punya tiga minggu sisa untuk mengerem pengeluaran.
BACA JUGA: Tips Mengatur Keuangan untuk Freelancer
Cara membagi uang gaji agar cukup memang butuh latihan, konsistensi, dan disiplin. Tapi percaya deh, perasaan bebas dari stres finansial di akhir bulan itu jauh lebih nikmat daripada belanja impulsif sesaat.
Nah, supaya kamu nggak usah repot-repot mencatat manual, kamu bisa banget memanfaatkan teknologi. Aplikasi GoPay sangat membantu transaksi harian jadi lebih rapi dan praktis dengan fitur Laporan Pengeluaran.
Kamu bisa melihat ke mana saja larinya uangmu secara otomatis tanpa perlu pusing hitung satu-satu. Soalnya, ada grafik yang gampang banget dipahami, dan udah ada pembagian per pos pengeluaran.
Yuk, coba praktisnya fitur Laporan Pengeluaran aplikasi GoPay, dan tetap semangat mengatur keuangan, ya!







